Selasa, 23 Oktober 2018

Ini Alasan Kenapa Manusia Sangat Menyukai Hewan Peliharaan

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah umat membawa hewan peliharaannya saat mengikuti misa  untuk menghormati Santo Fransiskus di gereja St. Pierre D'Arene, Nice, Prancis, 1 Oktober 2017. Santo Fransiskus dari Assisi, merupakan santo pelindung hewan dan lingkungan. REUTERS/Eric Gaill

    Sejumlah umat membawa hewan peliharaannya saat mengikuti misa untuk menghormati Santo Fransiskus di gereja St. Pierre D'Arene, Nice, Prancis, 1 Oktober 2017. Santo Fransiskus dari Assisi, merupakan santo pelindung hewan dan lingkungan. REUTERS/Eric Gaill

    TEMPO.CO, Jakarta - Popularitas anjing, kucing, dan hewan peliharaan lainnya menunjukan bahwa hewan peliharaan tidak lebih dari sekedar iseng. Sekitar setengah dari rumah-rumah di Inggris memiliki hewan peliharaan yang terdiri dari kucing dan anjing. Pemiliharaan hewan-hewan ini tentunya akan memakan banyak waktu, uang, dan untuk beberapa alasan, hal ini tidak banyak memberi manfaat material.

    Namun, selama krisis keuangan tahun 2008, pengeluaran untuk hewan peliharaan menunjukan angka yang tetap. Ini menunjukan bahwa bagi pemilik hewan peliharaan, hewan-hewan tersebut bukanlah suatu kemewahan namun merupakan bagian keluarga mereka yang sangat mereka cintai.

    Berikut alasan beberapa orang cenderung memilih memiliki hewan peliharaan meski membutuhkan biaya dan waktu untuk merawatnya, seperti dikutip dari laman Business Insider:

    Baca: Badai Harvey di AS, Puluhan Relawan Selamatkan Hewan Peliharaan

    Alasan Kesehatan
    Belakangan ini banyak anggapan bahwa memelihara anjing atau kucing dapat meningkatkan kesehatan pemiliknya dengan berbagai cara. Memiliki hewan peliharaan dianggap dapat mengurangi resiko penyakit jantung, mengurangi kesepian, meringankan gejala depresi, depresi, dan demensia.

    Dorongan untuk membawa hewan peliharaan ke rumah, sangatlah luas sehingga ini sering kali dianggap sebagai ciri universal sifat manusia, namun tidak semua masyarakat memiliki tradisi memelihara hewan peliharaan. Kebiasaan memelihara hewan peliharaan sering dilakukan dalam sebuah keluarga. Hal ini diperkirakan berasal dari anak-anak yang ingin meniru gaya hidup orang dewasa dengan hewan peliharaan dijadikan sebagai objek anak-anak bagi mereka.

    Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal itu juga memiliki dasar genetik. Anggapan genetik ini berasal dari masa lalu yang menunjukan bahwa beberapa masyarakat atau individu berkembang karena hubungan naluriah dengan hewan.

    Baca: 5 Jenis Hewan Peliharaan yang Unik

    DNA Hewan Peliharaan
    DNA hewan piaraan hari ini mengungkapkan bahwa setiap spesies dipisahkan dari pasangan liarnya antara 5-15 ribu tahunlalu, pada periode Palaeolitik dan Neolitik akhir. Namun, tidak mudah untuk melihat bagaimana hal ini bisa dicapai jika anjing, kucing, sapi, dan babi pertama diperlakukan sebagai komoditas belaka.

    Jika memang begitu, teknologi yang tersedia tidak memadai untuk mencegah perkawinan silang yang tidak diinginkan dari stok domestik dan liar. Hal ini akan mempengaruhi jumlah gen hewan jinak yang ada. Namun, jika beberapa hewan tersebut telah diperlakukan sebagai hewan peliharaan, penahanan fisik di dalam habitat manusia akan mencegah pejantan liar untuk tidak berhubungan dengan betina.

    Penelitian terbaru menunjukan bahwa kasih sayang untuk hewan peliharaan berjalan seiring dengan perhatian terhadap alam. Orang yang kasar cenderung mereka yang tidak mengenal hewan atau lingkungan. Sedangkan orang yang memelihara hewan akan peduli dengan lingkungan dan cenderung bahagia. Dengan demikian, hewan peliharaan dapat membantu kita untuk berhubungan kembali dengan dunia alam dimana kita berevolusi.

    Baca: Pilih Hewan Peliharaan yang Aman Buat Anak

    Simak artikel menarik lainnya tentang hewan peliharaan hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    BUSINESS INSIDER | ZUL’AINI FI’ID N.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.