Rabu, 19 September 2018

Kisah Daniel Kish, Seorang Tuna Netra yang Melihat Melalui Suara

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daniel Kish, tunanetra yang memanfaatkan echo lokasi untuk melihat melalui suara. (ripleys.com)

    Daniel Kish, tunanetra yang memanfaatkan echo lokasi untuk melihat melalui suara. (ripleys.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak usia 15 tahun, Daniel Kish sudah menjadi seorang tuna netra. Namun dia bisa melakukan pekerjaan seperti orang dengan penglihatan sempurna. Seperti yang terlihat dalam video yang ditayangkan di situs Wired, Kish fasih menjelaskan tempat baru yang dia datangi, menggambarkan bentuk mobil, mengidentifikasi fitur arsitektur bangunan yang jauh, bahkan mengendarai sepeda.

    Banyak orang menganggap kemampuan Presiden World Access for the Blind itu luar biasa. Namun Kish berkeras dia tidak istimewa. Dia punya metode untuk melihat dengan bunyi klik di mulutnya. Klik itu merupakan bunyi dari gerak lidah saat mulut dibuka.

    Mungkin, telinga kita lebih mendengarnya seperti bunyi tak, bukan klik. Sama halnya dengan orang di sana yang menyebut bunyi pistol dengan bang, padahal menurut telinga orang di sini lebih pas terdengar dor.

    Nah, menurut Kish, dari gelombang suara dan echo alias gema dari suara klik atau tak dari mulutnya, dia menentukan benda-benda di sekitarnya. Dari pantulan suara bunyi klik yang sampai di telinganya, dia menyimpulkan berbagai informasi di sekelilingnya. Kemampuan ini disebut echolocation.

    Baca: Tuna Netra Bisa Nikmati Gerhana Matahari Pakai Aplikasi Ini

    Di dunia fauna, hewan seperti kelelawar mampu membaca lingkungan dan mencari makan dalam kegelapan dengan cara itu. Pun dengan paus dan lumba-lumba. Dengan pantulan suaranya, mereka bisa mendeteksi jarak, obyek, dan mengenali fisik di sekitarnya.

    Sejak kecil, Kish mengajar dirinya sendiri untuk menghasilkan suara klik tajam dengan mulutnya dan menerjemahkan suara yang dipantulkan oleh benda-benda di sekitarnya menjadi informasi spasial.

    Itu sebabnya, Kish mengaku bukan orang istimewa. "Orang-orang tunanetra sudah lama menggunakan berbagai bentuk echolocation untuk kegiatan sehari-hari," kata laki-laki kelahiran California, 51 tahun lalu, itu.

    Terlebih, echolocation bisa diajarkan. Lewat World Access for the Blind, Kish membantu orang tunanetra belajar memasak, bepergian, mendaki, menjalankan tugas, dan menjalani hidup mereka secara lebih mandiri dengan suara.

    Namun, menurut dia, meski setiap saat mempraktikkan bahkan mengajarkannya, dia mengaku tidak pernah mendapat penjelasan pandangan sistematis tentang echolocation. "Bagaimana semua itu bekerja hingga bisa menghasilkan efek terbaik," ujarnya. "Saya belum paham."

    Baca: Aplikasi Ayobacain untuk Penyandang Tuna Netra

    Hasil penelitian terbaru yang dipimpin psikolog Universitas Durham, Inggris, Lore Thaler, yang diterbitkan dalam PLOS Computational Biologytakes, menjawab keingintahuan Kish itu. Mereka membawa Kish dan dua ahli ekolokator lain ke dalam sebuah ruang tertutup, yang dikenal di kalangan akustik sebagai ruang anechoic.

    Ruang tanpa gema ini memiliki dinding ganda, sebuah pintu baja berat, dan sebuah bahan peredam suara seperti busa untuk mengisolasi dari suara dunia luar. Persis seperti studio musik.

    Saat berada di sana, Kish dan dua rekannya merasa sedang berdiri di depan pagar kawat, di tengah ladang rumput yang sangat luas. Berada di dalam ruangan ini memungkinkan Thaler dan timnya merekam serta menganalisis ribuan klik mulut yang dibuat Kish dan dua ahli ekolokator yang dilibatkan dalam penelitian ini.

    Untuk menangkap bunyi klik itu, tim memasang beberapa mikrofon kecil, satu di mulut dan lainnya mengelilingi echolocator pada interval 10 derajat. Masing-masing diberi jeda pada berbagai ketinggian dari batang baja tipis.

    Mikrofon dan batang kecil sangat penting. Andai peralatan yang dipakai berukuran besar, akan menyulitkan mereka karena kian banyak suara yang akan mereka cerminkan. Itu bisa mengurangi ketepatan pengukuran mereka.

    Baca: Sepak Bola Tuna Netra Meriahkan Kemerdekaan RI ke-72

    Thaler memulai penelitian dengan mendapatkan sifat akustik dari klik mulut yang bervariasi daripada echolocator. Sebelumnya, mereka mengukur bunyi klik mulut Kish dan dua ahli ekolokator lain, lalu mengubahnya menjadi sinyal yang dihasilkan komputer.

    Di layar monitor ternyata bunyi klik yang mereka hasilkan sangat mirip. Thaler mencirikan bunyi-bunyi itu bersifat "terang", yakni berada di frekuensi bernada tinggi—sekitar 3 dan 10 kilohertz—dan singkat. Mereka cenderung bertahan hanya 3 milidetik sebelum lenyap dalam keheningan.

    Para peneliti juga menganalisis jalur spasial yang diikuti gelombang suara setelah meninggalkan mulut echolocator. "Anda bisa menganggapnya sebagai senter akustik," kata Thaler. Saat menyalakan lampu senter, cahaya menyebar melalui ruangan. Banyak yang bergerak ke depan, tapi ada juga yang bertebaran ke kiri dan kanan. Pola sebaran untuk bunyi klik menempati ruang dengan cara yang mirip dengan semprotan lampu senter.

    Tim menemukan pola sebaran untuk bunyi klik—yang berasal dari mulut echolocator—itu kira-kira terkonsentrasi pada kerucut 60 derajat. Sebuah jalur yang lebih sempit dibanding ucapan yang lebih dulu diamati. Thaler menghubungkan jalur yang sempit itu dengan kecerahan nada klik. Frekuensi yang lebih tinggi cenderung lebih terarah daripada yang lebih rendah.

    Baca: Mahasiswa Bikin Alat Pembaca Uang Buat Tuna Netra

    Menurut Thaler, hal itu serupa dengan perangkat sound system. Penempatan subwoofer alias pengeras suara kurang penting daripada tweeter atau speaker khusus untuk frekuensi tinggi sekitar 2-20 kilohertz.

    Thaler dan timnya menggunakan pengukuran ini untuk membuat klik buatan dengan sifat akustik yang serupa dengan yang asli. Hasilnya, bunyi itu dapat memberikan gambaran atau memodelkan apa yang akan didengar oleh subyek.

    Penelitian ini belum sempurna. Thaler dan rekan-rekannya punya agenda berikutnya, yakni mempelajari lebih dan memahami riset ini. Dengan bantuan Thaler, Kish dan kawan-kawannya terbantu dalam mengenali obyek di sekitar mereka.

    Baca: Stuart Gunn, Pembalap Tuna Netra Tercepat di Dunia

    Simak artikel menarik lainnya tentang kisah tuna netra lain hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    WIRED | SCIENCE DAILY | ANH | AMB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.