Kamis, 15 November 2018

Ilmuwan Temukan Cara Terapi Skizofrenia Terbaru, Pakai Listrik

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 12_iptek_ilustrasiSkizofrenia

    12_iptek_ilustrasiSkizofrenia

    TEMPO.CO, Paris - Sungguh sangat menderita mereka yang terserang skizofrenia. Mereka tidak lagi bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Gejala umumnya adalah mendengar suara-suara atau bisikan yang sangat mengganggu dan menyebabkan orang tersebut menjadi paranoid.

    Kisah John Forbes Nash, matematikawan Amerika Serikat peraih Nobel Ekonomi 1994, yang diangkat menjadi sebuah film A Beautiful Mind (2001), merupakan salah satu contoh menarik tentang pergolakan penderita skizofrenia.

    Namun kini ada kabar baik untuk para penderita skizofrenia. Sonia Dollfus, profesor psikiatri dari University of Caen, Prancis, dan timnya menemukan wilayah di otak yang dapat meringankan halusinasi pendengaran yang kerap datang. Caranya dengan memberikan rangsangan menggunakan terapi impuls listrik.

    "Saat gejala itu datang, bukan hanya penderita yang terganggu, orang-orang terdekat juga akan terkena imbasnya," kata Dollfus dalam konferensi tahunan European College of Neuropsychopharmacology (ECNP) yang digelar di Paris, Prancis. Studi ini akan diterbitkan dalam jurnal Schizophrenia Bulletin dalam waktu dekat.

    Baca: Skizofrenia, dari Remaja hingga Dewasa

    Dollfus dan tim melibatkan 59 pasien skizofrenia. Semuanya kompak menyatakan suara gaib yang datang sangat khas. Para responden juga diberi pertanyaan tentang nada suara (ramah atau bernada mengancam), intensitas datangnya suara (sering atau jarang terjadi), dan sumber datangnya suara (dari dalam atau luar kepala pasien). Dari situ tim memberi skor halusinasi pendengaran tersebut. Skor tinggi menunjukkan halusinasi kerap terjadi.

    Kemudian tim menggunakan high-frequency transcranial magnetic stimulation (TMS) kepada kelompok A, pasien yang berjumlah 26 orang. Adapun kelompok pasien B, berjumlah 33 orang, tidak diberi terapi TMS, melainkan diberikan pil netral (placebo) guna menjadi kelompok kontrol.

    TMS bisa mengirimkan impuls magnetik melalui kulit kepala untuk merangsang sel otak seseorang. Sinyal ini menargetkan bagian spesifik otak yang terkait dengan pemahaman dan produksi bahasa: lobus temporal. Tiap pasien di kelompok A menerima impuls magnetik frekuensi tinggi sebesar 20 hertz (Hz).

    Sebelumnya, pernah ada studi serupa dengan teknik terapi yang sama. Namun, menurut Dollfus, penelitian saat itu kurang ketat dalam hal metode, terutama pada kelompok kontrol dan tidak menargetkan bagian otak tertentu. Pada studi kali ini, dua hal tersebut disempurnakan.

    Baca: Skizofrenia, 3 Kali Lebih Mungkin Jadi Pecandu Rokok

    Dollfus dan tim malah mendapatkan hasil yang tak terduga. Sebanyak 35 persen menunjukkan respons yang signifikan terhadap terapi ini. Signifikan dalam studi tersebut berarti mengalami penurunan mendengar suara gaib lebih dari 30 persen.

    Andreas Meyer-Lindenberg, Direktur Central Institute of Mental Healtf di Mannheim, Jerman, yang tidak tergabung dalam studi Dollfus, angkat topi atas pekerjaan Dollfus dan tim. Sebab, menurut dia, meski persentase keberhasilan terapi TMS masih moderat, TMS bisa disambut baik sebagai daftar terapi untuk pasien skizofrenia.

    "Terutama pasien yang tidak terlalu terdampak pada pengobatan konvensional," ujar Meyer-Lindenberg, yang juga anggota Dewan Eksekutif ECNP. "Namun butuh lebih banyak studi untuk menentukan apakah TMS aman untuk terapi skizofrenia dalam jangka panjang."

    Baca: Penderita Skizofrenia Belum Dapat Obat Tepat

    Simak artikel menarik lainnya tentang metode terapi skizofrenia hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    ECNP | EUREKA ALERT


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.