Rabu, 19 September 2018

Dua Tim Indonesia Jawara di Young Social Entrepeneurs 2017

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Empat tim dari Indonesia yang ikut ajang Young Social Entrepreneurs 2017 yang diselenggarakan Singapore International Foundation, Jumat, 4 November 2017. (TEMPO/Nur Haryanto)

    Empat tim dari Indonesia yang ikut ajang Young Social Entrepreneurs 2017 yang diselenggarakan Singapore International Foundation, Jumat, 4 November 2017. (TEMPO/Nur Haryanto)

    TEMPO.CO, Singapura - Tim Bhumihara dan Gigicare menjadi wakil Indonesia yang meraih penghargaan di ajang Young Social Entrepeneurs 2017 yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation. Mereka mendapat hadiah pendanaan masing-masing sebesar S$ 20 ribu atau hampir Rp 200 juta.

    Selain dua tim dari Indonesia, ada empat tim lain dari negara lainnya yang juga mendapat penghargaan di acara yang berlangsung di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre, Jumat lalu. Mereka adalah dua tim dari India, satu tim masing-masing dari Malaysia dan tuan rumah Singapura. Total ada 16 tim dari 10 negara yang ikut mengadu gagasan di ajang YSE 2017 ini.

    Hamzah Assaduddin dari Gigicare mengatakan bahwa semua tim yang tampil di hadapan juri mampu mengemukakan gagasan bisnisnya dengan bagus dan dia bersyukur bisa menjadi salah satu yang meraih penghargaan ini. Hamzah membuat Gigicare dengan temannya, Ahmad Faris Adli Izzudin, mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Jember--yang tidak bisa datang dalam acara itu.

    "Setelah mengetahui permasalahan yang ada pada mahasiswa akhir kedokteran gigi, kami kemudian mencoba menghubungkan mahasiswa koas dan pasien," kata Hamzah, lulusan Fakultas Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada itu.

    Sementara itu, Fadhila El Discha dan Febri Purborini Raharningrum dari tim Bhumihara juga sukses membuat dewan juri tertarik dengan gagasan mereka. Lulusan Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada tersebut, menyodorkan gagasan soal pengelolaan sampah yang ada di Pulau Bawean, Jawa Timur, sehingga mempunyai ekonomi tinggi dan berguna bagi masyarakat setempat.

    Febri mengatakan bahwa dengan mengikuti program YSE selama delapan bulan terakhir menjadi pengalaman paling menarik dari perjalanan pengembangan kewirausahaan yang dikembangkan. "Pengalaman ini sangat berharga dalam menjalin persahabatan dengan sesama agen perubahan sosial," kata Febri yang kini melanjutkan kuliah S2, Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia.

    Adapun dua tim Indonesia, Taponesia dan Super Wonder, yang juga memiliki ide cemerlang cukup puas mengikuti program yang diselenggarakan SIF ini. Taponesia yang dimotori oleh Tri Lestasi, Nur Maulidah El Fajr, dan Muhammad Ali Fikri, menyodorkan gagasan penanaman kembali hutan yang gundul seperti dari nama timnya yang merupakan kepanjangan dari Tanam Pohon Indonesia.

    Sedangkan Super Wonder yang diwakili oleh Khoirul Anam As Syukri menyodorkan bisnis mengelola limbah rumah tangga dan kotoran sapi untuk budidaya cacing yang akan dijadikan tepung cacing. Peternak dan petani dijadikan mitra penyedia bahan baku budidaya dan mereka memberdayakan ibu rumah tangga dalam memproduksi tepung cacing organik dan bebas kimia. "Bisnis ini memberdayakan ibu rumah tangga sehingga mempunyai penghasilan," kata Khoirul usai presentasi.

    Jean Tan, Direktur Eksekutif dari Singapore International Foundation, mengatakan bahwa ajang YSE 2017 ini akan menjadi batu loncatan bagi para wirausaha muda untuk memulai atau meningkatkan bisnis sosial mereka, menciptakan koneksi secara internasional, dan menjembatani perbedaan budaya untuk dunia yang lebih baik.

    "Para pemuda masa kini banyak yang terdorong memiliki usaha sosial yang kuat dan kami ingin terlibat di dalamnya," kata Jean Tan. "Hal ini memungkinkan mereka menjadi agen perubahan sosial yang positif antara Singapura dan seluruh dunia."

    Program yang diselenggarakan yayasan Singapura ini didukung oleh sejumlah organisasi termasuk penyandang dana, antara lain Asia Philanthropic Ventures, Deutsche Bank dan Ngee Ann Development Pte Ltd dan mitra lokal serta lembaga internasional lainnya seperti Ashoka, Intellecap, Ogilvy dan Mather, SAP, Singapore Management University, Tata Institute of Social Sciences, Unilever, Tsinghua University, dan YES Bank.

    Sejak 2010, program YSE telah menghasilkan 700 alumni dari 27 negara. Program ini akan terus berlanjut dan pendaftaran baru untuk program YSE 2018 pun telah dibuka melalui situs mereka. Nah anak-anak muda Indonesia tentu tak akan melewatkan program semacam ini tahun depan.

    Pemenang Young Social Entrepeneurs 2017 (menurut abjad):
    1. Auctorem Solutions (India): Usaha pengelolaan madu tradisional.
    2. Bhumihara (Indonesia): Usaha pengelolaan sampah menjadi nilai ekonomi.
    3. Freedom Cups (Singapore): Pengganti pembalut wanita yang bisa digunakan ulang selama 10 tahun.
    4. Gigicare (Indonesia): Aplikasi yang menghubungkan dokter gigi dan pasiennya
    5. JM Nutrition Consultancy (Malaysia): Pendidikan dan pemahaman soal makanan dan gizi.
    6. Lakshya Jeevan Jagriti (India): Pelatihan dan pendidikan untuk ibu dan anak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.