Sabtu, 23 Juni 2018

Muntahan Paus, Peneliti LIPI: Jangan Ada Perburuan Paus Sperma

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim penyelamat dibantu warga berusaha mendorong paus kembali ke laut usai terdampar di pantai Ujong Kareng, Aceh, 13 November 2017. Sebanyak 10 ekor paus sperma Seorang pejabat mengatakan 10 paus terdampar di pantai dan menarik perhatian ratusan warga untuk berfoto. AP Photo/Syahrol Rizal

    Tim penyelamat dibantu warga berusaha mendorong paus kembali ke laut usai terdampar di pantai Ujong Kareng, Aceh, 13 November 2017. Sebanyak 10 ekor paus sperma Seorang pejabat mengatakan 10 paus terdampar di pantai dan menarik perhatian ratusan warga untuk berfoto. AP Photo/Syahrol Rizal

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekar Mira, peneliti paus di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menegaskan jangan sampai ada perburuan terhadap paus sperma (Physeter macrocephalus), yang menghasilkan ambergris atau muntahan paus bernilai tinggi.

    Baca: 200 Kg Muntahan Ikan Paus Ditemukan Nelayan Bengkulu

    Sekar mengkhawatirkan terjadi perburuan paus sperma untuk diambil ambergrisnya, padahal mamalia itu termasuk hewan yang dilindungi.

    “Soalnya, para pemburu itu suka kejam. Maling telur penyu saja, kalau enggak sabar menunggu penyunya bertelur, dia bisa membunuh si induk dan mengambil langsung telur-telur dari tubuh si induk,” ujarnya, Selasa, 14 November 2017.

    Sekar mengakui ambergris memang bernilai tinggi dan menjadi incaran kolektor luar. Namun dia menegaskan mamalia ini termasuk hewan yang dilindungi.

    Dia mengatakan ambergris, yang merupakan sekresi saluran cerna paus sperma, kerap digunakan untuk membuat wewangian. Saat ini, menurutnya, produk sintetis ambergris juga sudah banyak. “Namun, mungkin untuk kalangan kolektor, memang masih ada yang mau bayar tinggi,” ucapnya.

    Sekar mengaku pernah didatangi beberapa orang dari Ambon yang berkonsultasi tentang ambergris. “Mereka berniat baik ingin memberdayakan masyarakat lokal mencari ambergris karena ada orang Eropa yang mau menampung dan membelinya,” tuturnya.

    “Saya sampaikan bahwa paus sperma termasuk dalam mamalia laut yang sepenuhnya telah dilindungi di Indonesia, meskipun mungkin di Eropa masih legal untuk menjual-belikan ambergris,” katanya.

    Tak hanya hal tersebut yang membuat Sekar menentang utusan masyarakat Ambon itu. “Secara global pun, kalau dilihat di daftar merah dari IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), Physeter macrocephalus ini telah masuk kategori vulnerable atau rentan,” ujarnya.

    Muntahan paus sperma ini mencuat setelah Sukadi, nelayan asal Bengkulu, menemukan 200 kilogram ambergris pada awal November lalu. Sukadi mengaku secara tidak sengaja melihat benda berwarna putih tersebut mengapung saat melaut di sekitar Pulau Enggano.

    Baca: Muntahan Ikan Paus di Bengkulu Dijual Rp 22 Juta Per Kg

    Sukadi berniat menjual muntahan paus itu. "Rencananya dijual Rp 22 juta tiap kilogram," kata Sukadi saat dihubungi Tempo, Senin, 13 November 2017.

    ERWIN Z.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Ini 12 Merek yang Paling Dicari di Dunia. Ada Produsen Indonesia.

    Lembaga Kantar Worldpanels Brand Footprint menganalisis 18 ribu merek di 43 negara pada 2017. Ini yang paling banyak dicari konsumen.