Kontroversi Taruna Ikrar, Ini Imbauan Ilmuwan

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Kartu Staf Akademik Universitas California, Irvine, Taruna Ikrar. Kredit: Istimewa

    Foto Kartu Staf Akademik Universitas California, Irvine, Taruna Ikrar. Kredit: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Taruna Ikrar, peneliti neurosains, baru-baru ini melakukan klarifikasi dan pembelaan publik terkait status profesionalnya yang disebarluaskan ke media. Panggung pembelaan yang disediakan media ini seperti menetralisir dan cukup berhasil sebagai sebuah damage control. Sayangnya, menurut Sidrotun Naim, peneliti bioteknologi di Surya University, fakta yang disampaikan Taruna tidak terverifikasi.

    "Pembelaan yang justru membuka tabir yang lebih dalam tentang kesalahan dan klaim selama ini, yang belum juga diakuinya," kata Sidrotun, kepada Tempo, Selasa, 28 November 2017.

    Taruna diundang menjadi pembicara di beberapa tempat di Indonesia, termasuk Universitas Gadjah Mada dan TNI-AD, awal November. Seorang warga net bernama Ferizal (alumnus UGM), menulis pertanyaan terbuka di media sosial, ditujukan ke Rektor UGM dan Panglima TNI. Pertanyaannya terkait beberapa klaim Taruna, seperti tentang nominasi Nobel 2016, profesor biomedik, dekan di Pacific Health Sciences University (PHSU), dan Presiden BioBlast Discovery.

    Sidrotun bercerita sempat menghubungi Zullies Ikawati dari UGM yang mengundang Taruna sebagai pembicara di sebuah seminar. Mengutip Zullies, Sidrotun mengatakan, di awal korespondensi, Taruna menggunakan alamat email dari University of California, Irvine, yang mengindikasikan masih ada afiliasi.

    UGM mengundang Taruna dengan pertimbangan publikasinya yang banyak termasuk di Nature. Selain itu, Taruna menjadi bagian dari tim peneliti di UC Irvine yang produktif. "Sebagai orang Indonesia yang berpengalaman di sebuah grup penelitian yang kredibel di Amerika, diharapkan Taruna dapat membagikan pengalaman dan keilmuannya," kata Sidrotun. "Karena itu, undangan sebagai pembicara seminar masih cukup layak dan UGM sudah menggunakan pertimbangan yang benar."

    Sebelum Sidrotun, Aminuddin, peneliti dan staf pengajar di Universitas Hasanuddin, juga berusaha mengkonfirmasi status Taruna kepada pihak UC Los Angeles dan UC Irvine. "Mengapa klarifikasi ke UC Irvine? Dengan melakukan pendekatan kepada Rektor Unhas, Taruna diangkat menjadi dosen luar biasa. Menjadi relevan jika Aminuddin melakukan investigasi sebagai sesama alumni dan staf pengajar Unhas untuk memperoleh informasi yang benar tentang kredibilitas Taruna yang juga alumnus Unhas," ujar Sidrotun.

    Taruna adalah dokter lulusan Universitas Hasanuddin (1988-1997). Setelah itu dia melanjutkan master di bidang farmakologi pada 1998-2003. Lalu dia melanjutkan mengambil gelar doktor bidang kardiovaskular di Niigata University, Jepang (2003-2008). Sepanjang 2008-2016 pun dia menjadi peneliti postdoctoral dan asisten spesialis di UC Irvine dengan keahlian sebagai electrophysiologist. "Kalaupun dia buka praktik sepanjang 1998-2003 saat mengambil kuliah di UI," kata Sidrotun.

    Menurut Sidrotun, Taruna memiliki modal sosial lengkap. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang sangat beragam. Aktif di organisasi-organisasi mapan. Modal sosial ini, ditambah integritas ilmuwan menuntut standar moral dan etik yang tinggi. Wajar, jika publik dan lembaga-lembaga di Indonesia memiliki kepercayaan tinggi kepada Taruna. Bahkan, dalam rangkaian HUT-RI ke 72, Unit Kerja Presiden Penguatan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), memberikan penghargaan kepada Taruna sebagai salah satu ikon ilmu pengetahuan.

    "Jejak di atas perlu dicermati publik untuk mengetahui kapasitas keilmuan dan kompetensi klinik Taruna. Kapasitas keilmuan dapat dilihat dari publikasi," ujar Sidrotun.

    Sejak 2017, Taruna mengaku berafiliasi sebagai dekan dan profesor di National Health University (NHU) atau Pacific Health University (PHSU) dengan menunjukkan dua surat pengangkatan. Namun, menurut Sidrotun, terdapat beberapa cacat administrasi dalam surat keterangan pengangkatan tersebut. Pertama, tanda tangan pimpinan universitas yang tidak konsisten.

    Kedua, kejanggalan tanggal. "SK pengangkatan bulan Januari 2017 padahal Taruna ditransfer dari NHU yang hanya sembilan bulan eksis untuk kemudian tutup (apapun alasannya) dan bergabung dengan PHSU Oktober 2017," ujar Sidrotun. "Selain itu, logo PHSU juga diambil dari domain publik. Keberadaan PHSU dan klaim Taruna sebagai dekan dan profesor memerlukan konfirmasi lebih lanjut."

    Dalam wawancara dengan Tempo, 20 November lalu, Taruna menegaskan bahwa dirinya tidak berbohong. Dia mengakui bahwa kampus PHSU, tempatnya menjadi dekan saat ini, adalah kampus baru. "Ini universitas baru, rancangannya mulai tahun 2016, keluar SK dari bagian pendidikan California baru Januari 2017," ujarnya.

    Taruna pun menjamin bahwa kampus tersebut tidak fiktif. "Saya jamin, Anda bisa datang ke sini dan bisa lihat. Tentu jangan dipikirkan ini universitas besar, seperti Universitas California, tempat saya sebelumnya," ujarnya.

    Sidrotun mengatakan telah meminta konfirmasi kepada pihak UC Irvine. Korespondensi yang terjadi sepanjang 13-22 November 2017 antara Sidrotun dan Xiangmin Xu (atasan langsung Taruna di UC Irvine)--selanjutnya wewenang menjawab diambil alih oleh Profesor Alan Goldin--membantah klaim Taruna. Alan Goldin adalah penanggung jawab program training klinis di UCI, Associate Vice Chancellor for Academic Affairs, Susan & Henry Samueli College of Health Sciences.

    Ada beberapa poin yang disampaikan Goldin. Pertama, Taruna selesai kontrak dengan UC Irvine pada 8 Agustus 2016 dan setelah itu tidak ada afiliasi. Alamat email Taruna di UC Irvine, seharusnya sudah dihentikan pada hari tersebut, tapi ada kelalaian UCI. "Hal ini membantah keterangan Taruna bahwa dia masih memiliki email UC Irvine karena masih terafiliasi," kata Sidrotun.

    Kedua, Taruna adalah peneliti postdoktoral selama 5 tahun dan sebagai asisten spesialis selama 3 tahun. "Ini membantah kesan yang diciptakan Taruna ke publik Indonesia yang jejak digital tertulis dan audiovisual mudah didapatkan: staf akademik, spesialis senior, atau bahkan adjunct research professor," kata Sidrotun.

    Sidrotun mengatakan, e-mail tersebut menyebutkan bahwa peneliti di UC Irvine memakai titel "academic" untuk membedakan dengan staf administrasi. "Academic" di kartu pengenal yang ditunjukkan Taruna menunjukkan bahwa kategorinya peneliti, bukan pengajar. "Untuk dosen, di kartu identitas tertulis 'faculty'," kata dia. "Ini membantah kesan yang diciptakan Taruna bahwa dia juga memiliki peran mengajar dan membimbing mahasiswa S3 bahkan postdoc."

    Peran tersebut, menurut Sidrotun, mungkin saja dilakukan dalam sesi informal. Adalah hal yang biasa peneliti dan mahasiswa di laboratorium yang sama, bahkan di universitas yang berbeda, saling berdiskusi dan membantu.

    Ketiga, UC Irvine tidak pernah menominasikan Taruna untuk Nobel kedokteran 2016 atau penghargaan lain. "Itu salah persepsi. Yang saya maksud adalah harapan untuk dinominasikan," kata Taruna kepada Tempo, 20 November 2017. Sebaliknya, dalam wawancara dengan VOAnews (Mei 2016) dan TVOne (Mei 2017) menunjukkan bahwa Taruna mengatakan dinominasikan untuk Nobel 2016. Keempat, UC Irvine menyatakan Taruna tidak memiliki paten dan tidak memiliki ijin praktek dokter di Amerika.

    Sidrotun mengimbau kepada publik Indonesia, khususnya dunia akademik, perlu berhati-hati dalam mengundang narasumber, baik dari dalam maupun luar negeri. Institusi seperti PHSU, kalaupun ada, menurut dia, bukan institusi yang layak untuk dijadikan mitra saat ini karena masih prematur. Begitu juga BioBlast, perusahaan medik yang masih baru, dan dibawa Taruna untuk kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam membangun rumah sakit.

    Kolaborasi dapat dilakukan jika PHSU dan BioBlast sudah mapan dan dapat memberikan manfaat lebih kepada institusi di tanah air. "Lembaga pemerintah di bawah kantor Presiden harus menjaga wibawa Presiden, lebih berhati-hati dan melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memberikan penghargaan, bahkan dalam mengundang individu ke Istana," kata Sidrotun.

    Sidrotun berharap kontroversi Taruna ini tidak menurunkan kepercayaan publik kepada ilmuwan. Menurut dia, banyak ilmuwan di dalam dan luar negeri yang berdedikasi dengan integritas tinggi.

    "Untuk Pak Taruna, setelah mengakui kesalahan dan meminta maaf ke publik, semoga karir profesional dan kehidupan bersama keluarga dapat kembali normal. Kekhilafan Anda, tidak menurunkan kompetensi teknis yang Anda miliki. Anda tetaplah Taruna Ikrar, dokter dan peneliti dan ilmuwan. Berbuat salah itu manusiawi," kata Sidrotun.

    Menurut Sidrotun, membawa-bawa nama PHSU dan BioBlast justru memperumit hidup keadaan. "Padahal, jika Anda tampil dengan mengedepankan branding Taruna Ikrar seorang dokter dan ilmuwan dengan publikasi A, B, C, itu sudah cukup. Tak seorang pun akan membantah," ujarnya. "Bangsa ini, dan dunia, tetap membutuhkan Anda sesuai dengan kompetensi ilmiah dan klinik yang Anda miliki. Anda adalah Taruna Ikrar, dokter dan ilmuwan neurosains."

    Meski berusaha mengungkapkan fakta terkait Taruna Ikrar, tapi Sidrotun menganggap Taruna sebagai ilmuwan panutan yang produktif dalam publikasi ilmiah dan tulisan populer. Taruna pernah menjadi pengurus PB-HMI, ICMI, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), dan saat ini menjadi anggota Dewan Pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI). "Sebagai sesama peneliti, saya tidak ingin Taruna mengalami pengadilan publik tanpa disertai bukti," ujar Sidrotun

    Simak artikel menarik lainnya tentang kontroversi Taruna Ikrar hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?