Senin, 10 Desember 2018

Ternyata Inilah Biang Keladi Penyebab Alzheimer

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi demensia/Alzheimer. Wisegeek.com

    Ilustrasi demensia/Alzheimer. Wisegeek.com

    TEMPO.CO, Montreal - Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif yang berakibat pada kematian sel otak dan ditandai dengan hilangnya fungsi kognitif secara bertahap. Tidak hanya kemampuan berpikir dan mengingat yang menurun, tapi juga penderitanya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Semuanya mengalami kemerosotan tanpa henti sampai tutup usia.

    Meskipun Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum, mekanisme dasarnya tidak sepenuhnya dipahami. Hingga kini tidak ada perawatan untuk menghentikan penurunan itu. Namun kabar bagus datang dari para peneliti di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Mereka berhasil mengungkapkan sepotong baru teka-teki, yang bisa memberi petunjuk untuk pendekatan terapeutik baru.

    Dalam studi yang dipublikasi di Nature Communications, mereka menyatakan pemicu Alzheimer adalah terjadinya mekanisme sel yang berkontribusi pada pemecahan komunikasi di antara neuron. Mereka menyebutkan pentingnya peran molekul RNA dalam transmisi sinaptik, yakni proses neuron berkomunikasi satu sama lain. Dalam jaringan otak pasien Alzheimer, RNA yang menyandikan protein sinaptik mengalami penurunan atau terdegradasi lebih cepat dibanding mereka yang memiliki sel otak yang sehat.

    Baca: Bahan Misterius Kopi Menangkal Alzheimer

    Mereka juga menemukan jumlah protein dalam neuron pasien Alzheimer, yang berfungsi membantu menstabilkan RNA, ini kurang berlimpah. Hamed S. Najafabadi, penulis senior dan asisten profesor di Fakultas Genetika Manusia Universitas itu, menyatakan tingkat protein yang tidak memadai atau dikenal sebagai RBFOX1, diduga menjadi salah satu faktor kesalahan, dan itu merupakan tanda dari penyakit Alzheimer.

    Sel manusia menghasilkan ribuan jenis RNA berbeda untuk membawa informasi genetik. Namun RNA juga mengalami proses pembusukan terus-menerus. Padahal keseimbangan antara produksi dan degradasi menentukan berapa banyak RNA yang diberikan ada di dalam sel. Sayangnya, para ilmuwan itu baru mendapatkan informasi yang belum cukup banyak tentang bagaimana proses pembusukan RNA dikendalikan.

    Dalam penelitian sebelumnya yang juga dilakukan oleh Najafabadi, diketahui bahwa degradasi RNA terlibat dalam penyakit manusia yang berbeda. Sebagian besar temuan tersebut berasal dari penelitian pada model penyakit garis sel. "Kami ingin mengukur laju degradasi RNA secara langsung di jaringan manusia, namun metode yang tersedia tidak dapat dilakukan," ujar Najafabadi.

    Baca: Cokelat Hitam dan Anggur Merah buat Penderita Alzheimer

    Mereka mencoba mencari tahu dengan memodelkan proses produksi dan pembusukan RNA. "Kami merancang metode matematis untuk menghitung degradasi RNA dengan menggunakan teknologi genomik yang ada," kata dia lagi. Para peneliti pun melakukan pengujian dengan pendekatan yang lebih baru. Caranya, mereka berkolaborasi dengan ilmuwan di University of California, San Francisco, Amerika Serikat.

    Mereka berbagi tugas. Tim California, yang dipimpin oleh Hani Goodarzi, mengembangkan sel di laboratorium dan mengukur laju degradasi RNA dengan menggunakan metode konvensional. Pada saat yang sama, di Montreal para peneliti memperkirakan tingkat penggunaan metode matematika mereka.

    Kedua hasil itu cocok. Najafabadi dan anggota tim penelitian kemudian menerapkan metode matematis untuk menganalisis data yang tersedia di jaringan otak orang-orang yang meninggal akibat Alzheimer dan membandingkan dengan mereka yang tidak menderita Alzheimer. Hasilnya, kedua kelompok tersebut menunjukkan tingkat degradasi RNA yang cepat dan kekurangan protein RBFOX1 pada pasien Alzheimer.

    Baca: Beda Penyakit Alzheimer dengan Pikun

    Namun ternyata hasil ini masih meninggalkan banyak hal yang harus mereka ungkap. "Masih banyak yang harus dipelajari tentang peran degradasi RNA pada penyakit Alzheimer dan lainnya," kata Najafabadi. Misalnya, dia menambahkan, mengapa ada pengurangan RBFOX1 pada Alzheimer? Apakah jumlah protein yang dikurangi ini merupakan faktor risiko, atau ciri stadium selanjutnya?

    "Dan dapatkah kita mengembalikan setidaknya sebagian dari fungsi normal neuron, dengan mengendalikan aktivitas RBFOX1?" ujar dia. Alzheimer tetap masih jadi misteri. Najafabadi masih terus bekerja keras memecahkan teka-teki itu.

    Baca: Nonton TV Seharian, Alzheimer Risikonya

    Simak artikel menarik lainnya tentang alzheimer hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    NATURE COMMUNICATION | SCIENCE DAILY | DEMENTIA TODAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.