Ini Potensi Gempa Baru di Wilayah Tengah dan Timur Indonesia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Plafon bangunan Lantai 2 Pada Maluku City Mall ambruk akibat gempa bumi di Ambon, Selasa malam, 31 Oktober, 2017. Foto: Istimewa

    Plafon bangunan Lantai 2 Pada Maluku City Mall ambruk akibat gempa bumi di Ambon, Selasa malam, 31 Oktober, 2017. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Bandung - Tim peneliti menambahkan 214 sesar atau patahan aktif baru pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017. Sumber gempa itu banyak terdapat di wilayah Indonesia tengah dan timur. Daratan Pulau Kalimantan bersih dari potensi gempa berkekuatan magnitudo lebih dari 5.

    Baca: Potensi Gempa Baru di Peta Kegempaan 2017 Wilayah Sumatera-Jawa

    Sumber gempa baru yang ditambahkan itu di antaranya Selat Lombok, sisi timur Pulau Bali, yang bermagnitudo 7,5-7,6 dengan pergerakan 5 milimeter per tahun. Ada juga patahan Sumbawa (M = 6,9-7,4) dan Sumba (M = 6,7-7,7).

    Di wilayah Sulawesi, ada potensi gempa dari patahan Selayar di bagian selatan (M = 7,2) dengan pergerakan 5 mm per tahun, Manipa (M = 7,4), Buton (M = 6,2-7,1), dan Kendari (M = 7,4).

    Adapun di Sulawesi Tenga,h banyak sesar tambahan di sekitar patahan Palu, di antaranya Tokararu (M = 7,2) serta Weluki dan Loa (M = 7,3). Di Papua, penambahan sesar di antaranya Taminabuan (M = 6,5).

    Anggota tim peneliti, Irwan Meilano, mengatakan wilayah Ambon juga cukup banyak berpotensi menjadi sumber gempa dari sesar atau patahan. Sumber gempa di bagian selatan, misalnya, berpotensi magnitudo lebih dari 8,5. "Menurut literatur, pernah terjadi sebesar itu," katanya.

    Baca: Begini Kronologi Gempa di Selatan Pulau Jawa Versi BNPB

    Beberapa nama sesar yang tercantum di peta gempa baru itu ada yang belum lengkap potensi maksimal gempa dan pergerakan patahannya. Menurut Irwan, tim akan melengkapinya dengan studi terbaru pada 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.