Stephen Hawking: Surga Itu Tak Ada

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stephen Hawking, di kota New York, 2016. Hawking dikenal sebagai penemu teori Big Bang dan Black Hole, dari bukunya The Biref History of Time. Getty Images/Bryan Bedder

    Stephen Hawking, di kota New York, 2016. Hawking dikenal sebagai penemu teori Big Bang dan Black Hole, dari bukunya The Biref History of Time. Getty Images/Bryan Bedder

    TEMPO.CO, London - Stephen Hawking pernah berbicara soal surga dan neraka saat diwawancarai The Guardian. Menurut fisikawan ternama dari University of Cambridge ini menyatakan surga itu tak ada.

    Hawking mengatakan kepercayaan mengenai surga atau kehidupan setelah mati adalah "cerita bohong" bagi orang-orang yang takut mati. Sebagai penegasan penolakannya terhadap nilai keagamaan, ilmuwan paling terkenal asal Inggris ini mengatakan tidak ada masa setelah otak kita berhenti bekerja.

    Infografis: Prestasi Stephen Hawking di Bidang Matematika Sampai Fisika Kuantum

    Hawking yang didiagnosis menderita penyakit motor neurone ketika usianya 21 tahun ini juga mengungkapkan pendapatnya mengenai kematian, tujuan hidup manusia, dan peluang keberlangsungan hidup manusia. Penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan diperkirakan bakal mencabut nyawa Hawking. Namun, masa depannya yang dianggap suram tersebut justru membuat Hawking lebih menikmati hidup.

    "Saya telah hidup dengan ancaman mati lebih dini selama 49 tahun. Saya tidak takut mati. Namun, saya tidak buru-buru mau meninggal. Saya masih mau melakukan banyak hal," ujar Hawking.

    Baca: Stephen Hawking Sebut Kiamat Terjadi Pada...

    "Saya mengibaratkan otak sebagai sebuah komputer yang akan berhenti ketika komponennya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer-komputer yang rusak. Itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan," tambahnya.

    Komentar Hawking tersebut sejalan dengan pendapatnya pada bukunya The Grand Design (2010). Di buku itu, Hawking menegaskan tidak perlu Sang Pencipta untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. Buku tersebut memicu kecaman dari para pemimpin agama termasuk Rabbi Lord Sack. Sack menuding Hawking memiliki logika mendasar yang keliru.

    Baca juga: Tata Cara Salat di Luar Angkasa seperti di Asgardia

    Hawking, 69 tahun, menderita sakit keras setelah ceramah keliling Amerika Serikat pada 2009. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Addenbrookes sehingga memunculkan kekhawatiran akan kesehatannya. Sejak itu, ia kembali ke Cambridge sebagai direktur penelitian.

    Baca: Stephen Hawking: Manusia Hanya Punya Waktu 100 Tahun

    Simak artikel menarik lainnya tentang Stephen Hawking dan tentang keberadaan surga dari sisi sains hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    THE GUARDIAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H