Kisah Stephen Hawking, Venus Purba, dan Detak Jantung Matahari

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stephen Hawking. AP/Dave Einsel

    Stephen Hawking. AP/Dave Einsel

    TEMPO.CO, Jakarta - Stephen Hawking digambarkan melakukan penjelajahan antariksa dalam episode Favorite Places. Ini merupakan serial yang menampilkan narasi astrofisikawan terkemuka itu mengeksplorasi alam semesta.

    Hawking digambarkan--dalam bentuk CGI tentunya--sedang mengemudikan sebuah pesawat antariksa. Setelah berada di orbit bumi dia melewati tempat liburan masa kecilnya di Dorset, Inggris. Saat kecil, dia berpikir tentang kenapa bisa manusia ditempatkan di alam semesta yang begitu luas ini.

    "Inilah misteri dasar yang mendorong saya mencari segala teori," ujar Hawking, seperti dilansir laman Live Science, Senin, 8 Januari 2018.

    Baca: Stephen Hawking: Surga Itu Tak Ada

    Episode kali ini membawa Hawking ke tempat favoritnya. Pertama, di Dorset, tempat dia mencari fosil pertamanya. Kemudian Venus, dengan suasana yang begitu panas, di bawah tekanan di dekat permukaan cairan superkritis.

    Menurut Hawking, Venus adalah contoh dari pemanasan rumah kaca. Hal ini, kata dia, bisa terjadi di bumi jika karbon dioksida dan efek gas rumah kaca lainnya yang ada di atmosfer terjadi dengan tingkat ekstrem.

    Menurut NASA, sekitar 4 miliar tahun yang lalu, Venus mungkin telah menjadi tempat yang jauh lebih ramah. Para astronom percaya Venus pernah memiliki air, tapi setelahnya mengalami periode pemanasan yang membakar lautan dan mendorong suhu hingga 864 Fahrenheit (462 derajat Celsius). "Anda harus tahu kalau perubahan iklim itu nyata, lihatlah Venus," kata dia.

    Baca: Ini Kunci Stephen Hawking Bertahan dari ALS

    Perjalanan fantastis Hawking selanjutnya membawa dirinya ke permukaan matahari. Dia digambarkan bisa mendengar detak jantung matahari atau suara fusi nuklir bintang utama tata surya kita itu.

    Dia kemudian mengunjungi ruang angkasa untuk menyaksikan lahirnya sebuah bintang. Berdasarkan citra teleskop Hubble dari 1990, bahan baku untuk menciptakan lahirnya sebuah bintang berasal dari sisa-sisa bintang raksasa purba.

    "Agara matahari dan planet dilahirkan seperti kita, seluruh generasi bintang raksasa harus hidup dan mati sebelum mereka," ujar dia. "Dan ini merupakan hal yang luar biasa, karena diperlukan waktu sekitar 7 miliar tahun agar hal itu bisa terjadi." Matahari, menurut Hawking, sudah berusia lebih dari 4,5 miliar tahun dan alam semesta 13,7 tahun. Jadi, kata Hawking, kita lahir tepat pada waktunya.

    Baca: Stephen Hawking Sebut Kiamat Terjadi Pada...

    Simak artikel menarik lainnya tentang Stephen Hawking di kanal Tekno Tempo.co.

    LIVE SCIENCE | CURIOSITY STREAM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H