Gempa Guncang Jakarta Diduga Aktivitas Sesar Cimandiri

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karyawan KPK berkumpul di luar gedung pascagempa yang mengguncang di kawasan Kuningan, Jakarta, 23 Januari 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah karyawan KPK berkumpul di luar gedung pascagempa yang mengguncang di kawasan Kuningan, Jakarta, 23 Januari 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Bandung - Gempa 6,1 magnitudo yang terjadi hari ini, 23 Januari 2018, pukul 13.34 WIB, diduga berhubungan dengan aktivitas sesar Cimandiri.

    “Ada kemungkinan ini berhubungan dengan aktivitas sesar Cimandiri,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kasbani, kepada  Tempo, hari ini.

    Baca: Gempa Keras Berpusat di Lebak, Tercatat 116 Rumah Rusak

    Kasbani mengatakan sesar Cimandiri terhitung sesar panjang yang berada di selatan Jawa bagian barat. “Sesar Cimandiri itu panjang, membelah dari selatan dari daerah Pelabuhan Ratu ke timur laut. Memang sesar besar itu,” kata dia.

    Sejumlah daerah yang mengalami kerusakan berada di lintasan sesar tersebut. “Tentunya makin dekat dengan sumber gempa, efek goncangannya akan makin besar. Juga daerah-daerah yang berada di lintasan sesar Cimandiri itu. Di situ juga mungkin ada sesar-sesar dengan orde kedua yang keberadaannya kita tidak tahu,” kata Kasbani.

    Kasbani mengatakan, pusat gempa yang relatif dalam tersebut membuat efek goncangannya luas. Kondisi bebatuan di satu lokasi juga mempengaruhi efek goncangan tersebut. Jakarta misalnya merasakan gempa tersebut relatif keras.

    “Jenis bebatuan di Jakarta itu, jenis batuan yang urai. Itu akan lebih menambah efek goncangan. Jakarta dan daerah dengan karakteristik batuannya yang lepas akan merasakan begitu,” kata dia.

    Kasbani mengatakan gempa tersebut tidak memberikan dampak pada sejumlah gunung api aktif yang lokasinya berdekatan. Gunung Salak dan Gunung Gede terhitung berada di jarak yang terdekat dengan sumber gempa. “Efek goncangannya di Gunung Salak itu sekitar skala IV MMI, sedangkan di Gunung Tangkubanperahu dan sekitarnya itu II MMI,” kata dia.

    Baca: BMKG Catat 8 Gempa Susulan setelah Gempa Sukabumi

    Kasbani mengatakan akan mengirimkan tim ke lokasi terdekat dengan sumber gempa untuk meneliti efek kerusakan akibat gempa tersebut. “Tim kami akan bergerak besok untuk memeriksa kondisi di lapangan, untuk melakukan pemetaan. Ini penting untuk memberikan masukan rekomendasi dan rekonstruksi pascagempa,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.