Semakin Berubah, Sebetulnya Berapa Usia Antartika?

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sensus Penguin Antartika

    Sensus Penguin Antartika

    TEMPO.CO, Andalusia - Berapa umur Benua Antartika atau yang lebih dikenal dengan Kutub Selatan? Jawabannya: 33,6 juta tahun. Dari mana angka tersebut diperoleh? Mari kita cari tahu.

    Dengan meneliti keragaman plankton, tim peneliti Spanyol berhasil menghitung umur Antartika. Benua es terbesar di kutub selatan bumi itu diperkirakan berusia 33,6 juta tahun. Angka tersebut diperoleh dari sistem penanggalan ke awal masa pembentukan es di kutub.

    Sisa-sisa fosil plankton yang ditemukan di sedimen Antartika menunjukkan bagaimana keragaman jenis organisme renik itu merosot saat musim dingin besar melanda pada akhir kala Eosen dan awal Oligosen.

    "Sebelum transisi, bumi adalah tempat yang lebih hangat. Beragam plankton bertahan hidup, bahkan di kutub," ujar anggota tim peneliti, Carlota Escutia, dari Institut Ilmu Bumi Andalusia di Spanyol, seperti dilansir laman Live Science.

    ADVERTISEMENT

    Baca: Antartika Dulunya Sebuah Hutan, Ini Buktinya

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science itu berfokus pada organisme sel tunggal yang disebut dinoflagellata. Jenis plankton ini memiliki bagian tubuh yang dapat memfosil sehingga bisa dideteksi keberadaannya.

    Escutia mengatakan, sebelum transisi Eosen-Oligosen sekitar 34 juta tahun silam, dinoflagellata di Antartika sangat beragam. Seleksi alam terjadi ketika selimut es mulai terbentuk. Hanya plankton yang mampu menghadapi suhu dingin dan siklus beku-cair musiman yang bisa bertahan hidup.

    Selimut es Antartika adalah es laut mengambang yang meleleh di musim panas dan membeku di musim dingin. Pada saat es meleleh, plankton di Samudra Selatan--yang mengelilingi Antartika--mendadak sibuk. Mereka menyantap nutrisi yang terbebas dari es yang mencair. "Fenomena ini mempengaruhi dinamika produktivitas primer global," kata Escutia.

    Baca: Akibat Perubahan Iklim Antartika Semakin Hijau

    Produktivitas primer adalah dasar dari rantai makanan. Organisme fotosintetik seperti plankton mengambil sinar matahari dan nutrisi seperti zat besi dan nitrat, lalu mengubahnya menjadi senyawa organik. Organisme yang lebih besar kemudian memakan plankton dan memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber energi bagi tubuhnya.

    "Perubahan besar terjadi ketika spesies plankton menyederhanakan diri dan dipaksa beradaptasi dengan kondisi iklim yang baru," kata Escutia.

    Ekosistem es yang terbentuk setelah Eosen ditandai dengan tingginya jumlah plankton pada musim semi dan musim panas. Kondisi ini memicu siklus makan singkat bagi binatang penyantap plankton, seperti paus baleen, untuk memakan sebanyak mungkin plankton sebelum lenyap.

    Baca: Partikel Hantu Ditemukan di Kutub Selatan

    Simak artikel menarik lainnya tentang Antartika atau Kutub Selatan hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    LIVE SCIENCE | SCIENCE


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.