Rabu, 14 November 2018

Ilmuwan: Perubahan Iklim Bisa Lepaskan Racun Berbahaya

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dampak negatif dari pemanasan iklim yaitu berkurangnya sumber makanan utama mereka, yang telah menurun secara dramatis selama 50 tahun terakhir. Spesies Gentoo  lebih fleksibel dengan berkurangnya krill (sejenis udang) sebagai makanannya akibat perubahan iklim dibanding dengan Adelie dan Chinstraps. Kedua jenis tersebut, sangat bergantung pada krill untuk kelangsungan hidup mereka. boredpanda.com

    Dampak negatif dari pemanasan iklim yaitu berkurangnya sumber makanan utama mereka, yang telah menurun secara dramatis selama 50 tahun terakhir. Spesies Gentoo lebih fleksibel dengan berkurangnya krill (sejenis udang) sebagai makanannya akibat perubahan iklim dibanding dengan Adelie dan Chinstraps. Kedua jenis tersebut, sangat bergantung pada krill untuk kelangsungan hidup mereka. boredpanda.com

    TEMPO.CO, Colorado - Ilmuwan telah mengungkap bahwa perubahan iklim yang terjadi dapat melepaskan sejumlah besar merkuri. Bahan kimia ini adalah racun neurotoksin yang kuat dan dapat menjad ancaman serius bagi kesehatan manusia.

    "Sebagai pelarut tanah yang berada di titik beku (permafrost), beberapa bagian merkuri ini akan terlepaskan ke lingkungan dengan dampak yang tidak diketahui bagi manusia dan persediaan makanannya," kata Kevin Schaefer ilmuwan di National Snow and Ice Data Center di Boulder, Colorado, seperti dilansir laman Sante Fe New Mexican, 7 Februari 2018.

    Permafrost, tanah beku di Arktik, merupakan perangkap es besar yang membuat karbon terjebak di tanah dan di luar atmosfer. "Jika dilepaskan sebagai karbon dioksida, gas rumah kaca akan mendorong pemanasan global," ujar Schaefer.

    Baca: Akibat Perubahan Iklim Antartika Semakin Hijau

    Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Geophysical Research Letters menjelaskan bahwa ada 32 juta galon merkuri, atau setara dengan 50 kolam renang Olimpiade yang terperangkap di lapisan es. "Dua kali lebih banyak merkuri seperti sisa semua tanah, atmosfer, dan samudra yang digabungkan," demikian hasil studi yang terbit secara daring pada 5 Februari 2018.

    Para ilmuwan melakukan penelitian dengan mengambil inti dari permafrost di Alaska. Mereka mengukur kadar merkuri dan kemudian mengekstrapolasikan untuk menghitung berapa banyak merkuri yang ada di lapisan es di seluruh dunia, di mana hal itu mencakup sebagian besar wilayah Kanada, Rusia dan negara-negara utara lainnya.

    "Kami menduga ini merupakan penumpukan merkuri sejak zaman es terakhir," kata Schaefer.

    Studi tersebut mengatakan bahwa dengan tingkat emisi saat ini sampai tahun 2100, lapisan es dapat menyusut antara 30 dan 99 persen. Merkuri akan mengalir melalui sungai ke Samudra Arktik atau masuk ke atmosfer yang bisa mengancam makhluk hidup.

    Saat manusia mengkonsumsi ikan yang mengandung merkuri dalam jumlah terlalu besar, bisa berbahaya, terutama bagi wanita hamil. "Kami mengharapkan banyak hal yang akan dilepaskan, tapi kami tidak tahu persis berapa banyak, dan kapan, dan kapan akan dilepaskan," ujar Schaefer.

    Baca: 3 Indikator Ini Buktikan Indonesia Terdampak Perubahan Iklim

    Simak artikel lainnya tentang perubahan iklim hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    SANTA FE NEW MEXICAN | GEOPHYSICAL RESEARCH LETTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.