Selasa, 21 Agustus 2018

Ilmuwan Memprediksi Matahari Menjadi Lebih Dingin pada 2050

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Parker Solar Probe, wahana NASA untuk misi ke matahari. (NASA)

    Parker Solar Probe, wahana NASA untuk misi ke matahari. (NASA)

    TEMPO.CO, San Francisco - Sebuah studi baru menjelaskan, pada 2050, matahari mungkin akan menjadi lebih dingin. Berdasarkan laporan laman Xinhua Net, akhir pekan lalu, periode aktivitas matahari yang rendah akan menjadikan suhu lebih rendah di Bumi. 

    Baca: Lubang Hitam Tertua Seukuran 800 Juta Kali Matahari Ditemukan

    Para ilmuwan dari University of California, San Diego, menyatakan, berdasarkan siklus spiral surya baru-baru ini, matahari akan menjadi 7 persen lebih dingin, atau biasa disebut sebagai grand-minimum, dalam beberapa dekade lagi. 

    Selama grand-minimum pada pertengahan abad ke-17, suhu matahari turun cukup rendah dan bisa membekukan Sungai Thames. Namun pendinginan tidak merata di seluruh dunia. Meskipun cuaca dingin di Eropa, daerah seperti Alaska dan Greenland selatan menghangat. 

    Fenomena ini tampaknya menawarkan sebuah solusi alami untuk pemanasan global, tapi para ilmuwan menyanggah gagasan tersebut. Menurut mereka, efek pendinginan dari grand-minimum ini hanya bisa memperlambat pemanasan global dan tidak bisa menghentikannya. 

    Baca: Efek Sinar Matahari pada Mental, Ini Positifnya Kata Peneliti

    Para ilmuwan telah memperkirakan grand-minimum mungkin hanya akan menghasilkan pendinginan bumi sekitar 0,25 persen antara tahun 2020 dan 2070. Temuan terkait dengan matahari tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Astrophysical Journal Letters yang berbasis di Chicago.

    XINHUA NET | ASTROPHYSICAL JOURNAL LETTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.