Lapan Sebut Indonesia Aman dari Tiangong-1, Ini Lintasannya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiangong 1. Kredit: Independent

    Tiangong 1. Kredit: Independent

    TEMPO.CO, Bandung - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyimpulkan sementara ini wilayah Indonesia aman dari kejatuhan wahana antariksa Cina, Tiangong-1. Berdasarkan hasil pemantauan dan perkiraan terbaru, Tiangong akan jatuh (re-entry) ke Bumi pada Senin, 2 April 2018, pukul 07.15 WIB dengan selisih enam jam sebelum atau sesudahnya.

    Tim Lapan yang beranggotakan lima orang peneliti aktif memantau jatuhnya Tiangong. "Ketinggian Tiangong sekarang 160-an kilometer di atas daratan bumi," kata seorang peneliti di Pusat Sains Antariksa Lapan Bandung, Tiar Dani, Ahad, 1 April 2018.

    Sementara perkiraan terbaru ESA pada 30 Maret menyebutkan Tiangong-1 diperkirakan masuk kembali ke atmosfer Bumi pada 1 April pukul 12.15 EDT atau 16.15 GMT atau 23.15 WIB, kurang atau lebih 9 jam, menurut Aerospace Corp.

    Perkiraan posisi jatuh Tiangong-1. Kredit: Space-track/Lapan

    "Tidak ada lembaga antariksa di dunia yang bisa memprediksi dengan tepat lokasi jatuh hingga beberapa jam menjelang jatuhnya," kata Tiar.

    Pada beberapa kasus, ujarnya, lokasi jatuh yang paling dekat baru bisa diketahui dalam hitungan jam hingga beberapa menit setelah sampah antariksa mengalami re- entry atau melewati ketinggian kurang dari 120 kilometer.

    Kecepatan satelit di orbit rendah sekitar 8 kilometer per detik. Adapun Tiangong-1 berbobot 8,5 ton lebih ketika diluncurkan. Lokasi jatuhnya terentang luas antara garis 43 Lintang Utara hingga 43 Lintang Selatan.

    Misi utama stasiun ruang angkasa yang dibuat dan diluncurkan oleh Tiongkok ini adalah untuk pengujian dan penguasaan teknologi luar angkasa. Salah satu bagian dari roket Long March 2F yang meluncurkan Shenzhou 10 yakni CZ-2F R/B jatuh pada 22 Juni 2013 di samudera. Lapan ikut memantau jatuhnya.  

    Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh pemerintah Cina kepada PBB pada Desember 2017, Tiangong-1 menggunakan methylhydrazine dan dinitrogen tetroxide untuk bahan bakarnya. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis, sisa bahan bakar dalam jumlah yang tidak banyak lagi akan terbakar dan musnah bersama dengan bagian-bagian stasiun dalam proses re-entry.

    Kendati kemungkinan kecil ada bagian stasiun yang masih tersisa dan sampai ke permukaan bumi, masyarakat perlu tetap waspada. Jika warga menduga telah menemukan bagian tersebut, Lapan meminta agar menghubungi kepolisian terdekat atau ke Lapan.

    Tiangong-1 dilaporkan oleh otoritas antariksa Cina telah mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016.

    Tiangong-1 yang juga merupakan stasiun luar angkasa pertama milik Cina, dalam masa operasionalnya telah memberikan kontribusi penelitian antariksa bagi Cina sejak pertama kali diluncurkan pada 30 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center, Cina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.