Lapan Pastikan Indonesia Aman dari Serpihan Tiangong-1

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampakan Tiangong-1 menjelang jatuh ke Bumi oleh radar Fraunhofer FHR. Kredit: Fraunhofer FHR

    Penampakan Tiangong-1 menjelang jatuh ke Bumi oleh radar Fraunhofer FHR. Kredit: Fraunhofer FHR

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memastikan Indonesia aman dari kejatuhan serpihan Stasiun Luar Angkasa pertama milik Cina Tiangong-1 tidak berapa lama lagi.

    Menurut laman twitter LAPAN yang dipantau di Jakarta, Senin, lintasan terakhir Tiangong-1 akan berakhir di sekitar Samudera Atlantik dan telah melewati wilayah Indonesia.

    Menjelang jatuhnya stasiun tersebut, Tiangong-1 telah mengalami penurunan ketinggian rata-rata sebesar 3,2 kilometer per hari.

    Jika ketinggian mencapai 120 kilometer, maka stasiun itu akan dianggap mengalami "atmospheric reentry" sehingga dengan cepat akan jatuh menuju permukaan bumi.

    Proses "reentry" dari Tiangong-1 diperkirakan terjadi pada 2 April pukul 07.49 WIB plus minus dua jam.

    Panas dan tekanan yang dialami setelah "reentry" akan mengakibatkan Tiangong-1 pecah dan serpihan dari obyek tersebut bila tidak habis terbakar, akan menyebar pada area seluas ribuan kilometer.

    Sebelumnya, Pusat Pengendalian Ruang Angkasa Beijing (BACC) memperkirakan Tiangong-1 jatuh ke bumi antara 31 Maret hingga 4 April 2018.

    Tiangong-1 diluncurkan pada 29 September 2011 dan tugasnya berakhir pada 16 Maret 2016 setelah tidak memberikan sinyal apa pun ke bumi.

    Rentang orbit stasiun luar angkasa itu berada pada kisaran 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan.

    Dengan demikian, orbit Tiangong-1 membentang luas di atas kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, Cina, Timur Tengah, Afrika, Australia, sebagian Eropa, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.