Tiangong-1 Nyaris Jatuh di Pekuburan Pesawat Antariksa Point Nemo

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampakan Tiangong-1 menjelang jatuh ke Bumi oleh radar Fraunhofer FHR. Kredit: Fraunhofer FHR

    Penampakan Tiangong-1 menjelang jatuh ke Bumi oleh radar Fraunhofer FHR. Kredit: Fraunhofer FHR

    TEMPO.CO, Washington - Sisa-sisa Tiangong-1 tidak mendarat tepat di pekuburan pesawat luar angkasa, menyusul re-entry yang tak terkendali pada Senin pagi waktu Indonesia. Tetapi, posisi mendarat stasiun itu secara kebetulan mendekati lokasi pekuburan tersebut.

    Stasiun antariksa itu dilaporkan mendarat di Samudra Pasifik selatan dekat Samoa Amerika, beberapa ribu mil barat laut dari Point Nemo, sebagaimana dilaporkan Live Science, 2 April 2018.

    Space News melaporkan pernyataan dari U.S. Air Force’s Joint Force Space Component Command (JFSCC) di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California yang mengatakan bahwa pesawat ruang angkasa itu masuk kembali sekitar jam 20.16 EDT pada 1 April atau 00.16 GMT pada 2 April atau 07.16 WIB pada 2 April.

    Sebelumnya para peneliti berspekulasi selama berminggu-minggu tentang kemungkinan lokasi pendaratan darurat stasiun luar angkasa itu, menyediakan peta lokasi pendaratan yang mencakup sekitar sepertiga dari permukaan dunia.

    Menurut Aerospace.com, banyak yang memperkirakan bahwa stasiun luar angkasa akan mendarat di lautan, yang meliputi sebagian besar dunia. Sementara kemungkinan seorang manusia disambar puing-puing dari re-entri stasiun luar angkasa itu diperkirakan sekitar 1 dalam 300 triliun.

    Point Nemo (ditandai dengan warna merah) di Samudra Pasifik selatan merupakan pekuburan pesawat antariksa terbesar di dunia. Kredit: PGC/NASA IBCAO Landsat/USGS/Google

    Tempat kuburan pesawat luar angkasa itu adalah Point Nemo, dikenal juga sebagai Oceanic Pole of Inaccessibility. Point Nemo terletak di tengah Samudra Pasifik selatan. Lokasi itu terletak, secara harfiah, di antah berantah. Tapi tempat itu tidak kosong.

    Sekitar 2,5 mil (4 kilometer) di bawah permukaan samudra, Point Nemo memiliki "Pekuburan Pesawat Luar Angkasa" terbesar di Bumi, menyembunyikan sisa-sisa ratusan pesawat luar angkasa yang dipandu ke sana dalam entri ulang yang terkontrol sejak tahun 1970-an. Stasiun Tiangong-1 hampir mendarat di sana karena kebetulan kosmik semata.

    Mengapa Point Nemo merupakan tempat populer untuk re-entry pesawat antariksa terkontrol? Sederhananya, itu adalah tempat di Bumi yang paling tidak mungkin dimasuki manusia.

    Berada di tengah Samudera Pasifik selatan antara Australia, Amerika Selatan dan Antartika, Point Nemo lebih dari 1.450 mil (sekitar 2.700 km) dari daratan terdekat (Kepulauan Pitcairn di utara, Kepulauan Paskah di barat dan Pulau Maher Antartika di selatan), menurut National Oceanic and Atmospheric Administration. Tidak ada kapal yang pernah bepergian ke sana, dan tidak ada yang bisa dilihat.

    Masuknya kembali Tiangong-1 ke atmosfer Bumi tidak dikendalikan, tetapi ratusan entri ulang pesawat luar angkasa yang sama telah dipandu. Dari jumlah yang terkendali ini, hampir 300 pesawat telah dipandu ke Point Nemo sejak 1971, menurut laporan Popular Science.

    Hampir 200 dari penduduk pemakaman itu berasal dari Rusia, termasuk selebritas terbesar di wilayah itu: stasiun luar angkasa MIR yang memiliki berat 140 ton (127 metrik), yang dipandu ke Point Nemo dalam re-entri atmosfer terkendali pada tahun 2001. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) juga dijadwalkan untuk menabrak Point Nemo setelah misinya selesai, setelah 2024.

    Simak artikel lainnya tentang stasiun antariksa Tiangong-1 di kanal Tekno tempo.co.

    LIVE SCIENCE | AEROSPACE | SPACE NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.