Kamis, 26 April 2018

AS Gunakan Rudal Jelajah Stealth untuk Pertama Kali di Suriah

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rudal JASSM-ER AGM-158B untuk pertama kalinya digunakan pada serangan di Suriah. Kredit: Lockheed Martin/US Air Force

    Rudal JASSM-ER AGM-158B untuk pertama kalinya digunakan pada serangan di Suriah. Kredit: Lockheed Martin/US Air Force

    TEMPO.CO, Washington - Rudal jelajah stealth AS yang akurat dalam jarak 10 kaki (3 meter) dan dapat ditembakkan dari jarak 575 mil (925 km) digunakan dalam pertempuran untuk pertama kalinya selama serangan udara di Suriah, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, 16 April.

    Baca: Rusia Sukses Uji Rudal Penghancur Satelit Intelijen AS di Orbit

    Rudal JASSM-ER AGM-158B itu ditembakkan dari pengebom B-1B Lancer di atas Mediterania dengan sasaran sebuah pabrik senjata kimia di Barzah, Damaskus utara.

    Militer AS menembakkan 85 rudal secara total, menggunakan tiga kapal perusak dan satu kapal selam serta pembom B1-B. AS bergabung dengan Inggris dan Prancis dalam menanggapi serangan kimia oleh rezim Assad seminggu sebelumnya.

    Rudal baru ini adalah versi jarak jauh (ER) dari Joint Air-To-Surface Munition (JASSM), dengan dua setengah kali jangkauan, dan telah beroperasi sejak 2014 tetapi belum pernah ditembakkan sebelumnya, Aviation Week melaporkan.

    Desain senyapnya membuat rudal ini lebih sulit untuk dideteksi rudal anti-pesawat termasuk sistem S-400 Rusia yang ditakuti.

    Fortune melaporkan sembilan belas JASSM-ER ditembakkan ke Barzah dengan harga masing-masing US$ 1,4 juta (Rp 19,3 miliar), sehingga total biayanya US$ 27 juta (Rp 372 miliar). Rudal itu bergabung dengan 57 Raytheon Co Tomahawks.

    Rudal itu, yang diproduksi oleh Lockheed Martin untuk militer AS, mampu terbang dua kali jangkauan JASSM, dengan jangkauan setidaknya 575 mil, bukannya 230 mil. Sistem pencitraan infra merah memungkinkannya mencapai target dengan presisi luar biasa, akurat hingga hanya 10 kaki.

    DAILY MAIL | AVIATION WEEK | FORTUNE


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Akan Melarang Bekas Koruptor Jadi Caleg Pemilu 2019

    Di Maret 2018, Komisi Pemilihan Umum berencana menambahkan larangan bekas koruptor menjadi anggota legislatif dalam Peraturan KPU untuk Pemilu 2019.