Senin, 25 Juni 2018

Mahasiswa Brawijaya Bikin Biskuit Tempe untuk Atasi Gizi Buruk

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya yang membuat biskuit tempe. (Humas Universitas Brawijaya)

    Tim Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya yang membuat biskuit tempe. (Humas Universitas Brawijaya)

    TEMPO.CO, Malang - Mahasiswa Fakuktas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang membuat biskuit tempe untuk atasi gizi buruk. Dari namanya jelas terlihat bahwa bahan utamanya ialah tempe, tepung ganyong, dan bekatul. Kelima mahasiswa menamai biskuit Yummy Cookie (YUKI) ini diproduksi untuk mengatasi malnutrisi.

    Biskuit ini mengantarkan mereka menjadi finalis kompetisi pangan dunia The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018. Kompetisi dilangsungkan di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai India 23-27 Oktober mendatang.

    Baca juga: Bantah Abaikan Gizi Buruk Papua, Jokowi Unggah Video di Facebook

    Ngesti Ekaning Asih, Af'idatul Lutfita Shofiatur Rizka, Susi Wardani, Nur Afida Nuzula dan Lusia Kartika Ratri angkatan 2015. Mereka dibimbing Wenny Bekti Sunarharum menghasilkan biskuit yang kaya protein, kalori dan serat.

    Sedangkan bahan baku mudah didapat dan murah. Sehingga efektif untuk mengatasi kekurangan gizi. Inovasi ini sekaligus sebagai bentuk usaha untuk mencegah busung lapar di Indonesia.

    Baca juga: Di Balik Gizi Buruk Asmat

    Data FAO menunjukkan 124 juta jiwa terancam kelaparan sepanjang 2017. Sedangkan di Indonesia sekitar 19,4 juta jiwa yang menderita kekurangan gizi sepanjang 2014 2016. "Saya dan teman lain sudah akrab dengan tempe. Bagaimana mengolah tempe menjadi makanan yang menggugah selera dan kekinian," kata ketua tim, Ngesti Ekaning Asih.

    Biskuit tempe atau biskuit yummy cookie (YUKI) buatan mahasiswa Universitas Brawijaya (Humas Universitas Brawijaya)

    Inovasi biskuit tempe ini lantaran bentuknya unik, praktis dan lama penyimpangan cukup panjang. Selain itu kemasan menarik juga menjadi daya tarik konsumen. "Prosesnya sederhana. Tempe, bekatul dan ganyong dikeringkan dilumuri tepung dibalur telur. Kemudian diolah seperti pembuatan cookies pada umumnya."

    Baca juga: RS Penuh, 43 Pasien Anak Gizi Buruk di Asmat Dirawat di Gereja

    Yuki cookies juga aman bagi penderita autis karena tidak menggunakan terigu. Sehingga bersifat non gluten. IUFoST merupakan kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk pangan. Berdiri sejak 1962, memiliki motto Food Science Fighting Hunger.

    Mahasiswa Universitas Brawijaya, menyisihkan 3 ribu kontestan lain dari 70 negara. Mereka menjadi finalis bersama delapan tim lain dari Cina, Amerika Serikat, Brazil, India, Uganda, Kenya, Inggris dan Perancis.

    Baca juga: Cegah Gizi Buruk Terulang, Pemprov Papua Harus Rehab Permukiman

    Simak artikel menarik lainnya tentang biskuit tempe dan gizi buruk hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.