Minggu, 16 Desember 2018

Review Game Detroit: Become Human Rasa Kemanusiaan ala Android

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Android Kara dan Alice dalam game  PlayStation 4 berjudul Detroit: Become Human. (dok.Detroit: Become Human)

    Android Kara dan Alice dalam game PlayStation 4 berjudul Detroit: Become Human. (dok.Detroit: Become Human)

    TEMPO.CO, Jakarta - Game eksklusif PlayStation 4 ini  adalah gambaran kehidupan 20 tahun mendatang versi Detroit: Become Human. Berkat revolusi artificial intelligence, android (mengacu pada robot dengan penampilan manusia, bukan sistem operasi telepon genggam) mengisi semua lini kehidupan mulai mengasuh anak, menjadi penjaga toko, tukang bersih-bersih got, sampai pekerja seks. Intinya, apa yang manusia kerjakan, mereka bisa lakukan.

    Hampir semua orang bisa membeli android. Tipe pekerja domestik keluaran teranyar dibanderol 7999 dolar AS, setara Rp 111,5 juta--dan bisa dicicil. Dia berbicara dalam berbagai bahasa dan dialek, mahir memasak,  sampai membimbing tugas sekolah anak. Sementara yang tipe lawas dikorting jadi 688 dolar AS atau Rp 9,5 juta--lebih murah dari motor bebek tipe paling bontot di Jakarta hari ini.

    Sutradara David Cage dan krunya di studio Quantic Dream menggambarkan hari-hari manusia dua puluh tahun ke depan dengan: "Leyeh-leyeh di depan teve, sementara android mencuci piring, membersihkan lantai, merapikan kamar, dan menyiapkan makan malam."

    Baca juga: Asyiknya Memainkan Game PS4, Detroit: Become Human

    Sebagian orang memperlakukan android seperti keluarga, tapi banyak juga yang menganggap mereka budak. Tanpa disadari, para android itu mengalami perkembangan emosional. Mereka merasakan hal-hal yang tidak diprogramkan, seperti takut, marah, dan cinta. Di tengah kebingungan dan keputusasaan, mereka pun mulai mengkultuskan zat yang gaib dan membangkang. Publik melabeli mereka dengan deviant alias penyimpang.

    Androd Markus memimpin pergerakan persamaan hak dalam Game eksklusif PlayStation 4 Detroit: Become Human. (Dok. Detroit: Become Human)

    Pada November 2038, kasus penyimpangan meningkat drastis. Ada yang kabur, melakukan tindak kekerasan, hingga membunuh majikannya. Persepsi publik terhadap android kian negatif karena saat itu pengangguran mencapai tingkat tertinggi di Amerika Serikat, 35 persen--jauh di atas rata-rata saat ini, 4 persen. Lapangan kerja disesaki android, yang mampu bekerja siang-malam sonder upah dan makan.

    Di Detroit: Become Human, yang dirilis akhir bulan lalu, kita bermain dengan kacamata tiga android: Connor si pemburu penyimpang, Kara si asisten rumah tangga, dan Markus si pemimpin pergerakan. Mereka berada di setting yang sama, Detroit--dikisahkan sebagai kota pusat produksi android--, November 2038.

    Dari ketiganya, terlihat proses suatu (di game ini lebih tepat disebut seorang) android menjadi deviant. Kara, misalnya, diperintahkan "diam", saat majikannya memukuli putrinya sendiri, Alice. Ketimbang mematung, "nurani" Kara mendobrak program perintah itu, menolong Alice, dan kabur dari ayah pemadat tersebut.

    Bagaimana akhir pelarian Kara dan Alice, Anda yang menentukan. Kira-kira seperti novel "pilih sendiri petualanganmu" yang ngehits pada awal 1990-an. Setiap pilihan, atau salah memijit tombol saat quick-time events, akan menentukan nasib karakter Anda. Mati, ya mati. Tidak ada "Game Over". Cerita akan berlanjut dengan karakter yang tersisa.

    Quantic Dream, yang berbasis di Prancis, memang terkenal dengan game berbasis interactive story, seperti Heavy Rain yang populer pada 2010. Setelah merilis Beyond: Two Souls pada 2013, konsentrasi mereka dicurahkan untuk Detroit.

    Cerita menjadi kekuatan utama Detroit. Penggambaran android sebagai warga kelas kambing--yang tidak boleh berada satu ruangan dengan manusia di kebanyakan tempat publik--disuguhkan secara halus dalam berbagai adegan. Mulai tanda di pintu masuk toko, makian hanya karena berdiri di depan gerobak hotdog, sampai kontak fisik yang dilakukan pengunjuk rasa antiandroid.

    Di kota industri itu pula Martin Luther King Junior melakukan Walk to Freedom, demonstrasi terbesar dalam sejarah AS dengan 125 ribu peserta, pada 1963, untuk menentang diskriminasi ras kulit hitam.

    David Cage cs membutuhkan lebih dari dua ribu halaman naskah cerita. Dia memasukkan berbagai masalah sosial, seperti identitas ras dan kekerasan terhadap anak--bagian ini mendapat protes aktivis anak dan anggota parlemen Inggris sebelum game dirilis.

    Beda pilihan, hampir pasti beda ending. Pengembang menyuguhkan sesuatu yang baru lewat flowchart atau bagan cerita. Kita bisa mengulang dari titik-titik tertentu dan menjajal cabang cerita lain. Ada sekitar 40 akhir dari game ini. Hampir semua pemain yang Tempo temui mengulang permainan ini setelah tamat demi melihat ending lain atau mengobati penasaran, "apa jadinya kalau tadi saya memilih 'lari' ketimbang 'sembunyi'?". Total waktu permainan sekitar 10 jam.

    Meski demikian, ada lubang dalam cerita ini. Misalnya, saat Connor dan rekan detektifnya mengejar keberadaan Markus. Alih-alih menggali keterangan dari keluarga bekas pemiliknya, mereka malah menemui inovator android yang sudah lebih dari sepuluh tahun keluar dari industri tersebut.

    Androd Connor bersama partnernya, Letnan Hank Anderson dalam Game Detroit: Become Human dari PlayStation 4 (Dok. Detroit: Become Human)

    Namun, yang paling mengganjal, di banyak adegan, pemain disuguhkan pilihan yang jelas hitam-putihnya. Seperti saat si penemu android mau buka suara dengan syarat Connor mengeksekusi android perempuannya. Di saat yang sama, si partner yang manusia tulen mencak-mencak meminta Connor untuk meletakkan pistolnya. Hasilnya bisa ditebak, lebih dari 90 persen pemain game bertajuk Become Human ini memilih tidak menarik pelatuk.

    Baca: Detroit: Become Human, Game Terbaru PS4 yang Ditunggu-tunggu

    Game eksklusif PlayStation 4 ini juga punya kekuatan dari segi gambar. Hal ini tidak dimiliki game interactive story yang punya cerita yang kuat, seperti The Walking Dead . Sebaliknya, jika visualnya yahud, biasanya ceritanya cenderung lurus-lurus saja, seperti Until Dawn karya Supermassive Games.

    Di Detroit: Become Human, para aktor seperti Valorie Curry (berperan di Blairwitch dan The Twilight Saga: Breaking Dawn-Part 2) dan Jesse Williams (Grey's Anatomy) 290 hari untuk syuting motion capture demi mendapat gerakan serealistis mungkin. Cage juga membatasi mimik android agar tidak seekspresif tokoh manusia. Perpaduan kekuatan cerita dan visual menghasil game storytelling terbaik saat ini. Sulit untuk tidak tergoda memainkannya kembali setelah tamat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".