Ini Perbedaan Platform Video IGTV, YouTube dan Facebook

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri Instagram Kevin Systrom meluncurkan IGTV. Kredit: Venture Beat

    Pendiri Instagram Kevin Systrom meluncurkan IGTV. Kredit: Venture Beat

    TEMPO.CO, Jakarta - Fitur IGTV pada Instagram baru saja diluncurkan. Dengan fitur tersebut, Instagram mampu mengunggah video berdurasi panjang, dan diklaim dapat menyaingi YouTube dan fitur video pada Facebook.

    Baca: Instagram Umumkan Fitur IGTV untuk Saingi YouTube

    Meskipun diklaim dapat menyaingi YouTube dan Facebook, tentu ketiganya memiliki perbedaan. Tempo.co berusaha merangkum beberapa perbedaan dari ketiga platform tersebut, berikut bedanya:

    1. IGTV

    IGTV merupakan hub baru dari Instagram yang didedikasikan untuk video berdurasi panjang. Dengan fitur tersebut, pengguna dapat mengunggah video berdurasi 15 detik hingga 60 menit, naik dari batas sebelumnya yang hanya 60 detik.

    Fitur baru itu, dapat ditemukan di tab Explore Instagram dan akan menjadi aplikasi mandiri yang diluncurkan untuk perangkat iOS dan Android dalam beberapa minggu ke depan. IGTV akan fokus pada video yang diunggah pengguna serta memungkinkan melakukan streaming video langsung.

    Pengguna akan menemukan banyak pilihan konten dengan menggeser ke atas di aplikasi. Selain itu, pengguna juga dapat menyukai, berkomentar dan mengirim video ke teman melalui pesan langsung.

    Namun, menurut laman The Verge, Instagram tidak akan membayar pembuat konten di IGTV. Hal itu disebabkan karena Instagram tidak menjalankan layanan iklan layaknya YouTube dan Facebook.

    2. YouTube

    YouTube merupakan situs web berbagi video yang dibuat pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video. Platform video tersebut menggunakan teknologi Adobe Flash Video dan HTML5 untuk menampilkan berbagai konten video, termasuk klip film, klip TV dan video musik.

    Selain itu, platform yang menjadi bagian dari Google tersebut juga menyediakan konten amatir seperti blog video, video orisinal pendek, dan video pendidikan. Kebanyakan konten di YouTube diunggah oleh individu atau pembuat konten.

    Namun, YouTube dimanfaatkan juga oleh perusahaan media untuk mengunggah material mereka ke situs sebagai bagian dari program kemitraan YouTube. Pengguna yang tidak terdaftar dapat menonton video, sementara pengguna terdaftar dapat mengunggah video dalam jumlah tak terbatas.

    Selain itu, di samping video, YouTube juga menjalankan iklan, yang memungkinkan para pembuat konten untuk mendapatkan penghasilan dari konten mereka.

    3. Facebook

    Facebook merupakan layanan jejaring sosial yang menghubungkan keluarga dan pertemanan. Dalam platformnya, Facebook juga menyediakan fitur video untuk membangun interaksi yang lebih banyak.

    Spesifikasi unggahan video diklaim dapat mendukung semua jenis file video dengan resolusi 1.080 piksel. Selain itu video Facebook juga mendukung ukuran file hingga 10 gigabita dengan durasi kurang dari 240 menit.

    Facebook juga bisa menjalankan live video yang bisa dimanfaatkan bagi para penggunanya. Media sosial milik Mark Zuckerberg itu menyisipkan iklan dalam seluruh layanan video mereka.

    Iklan video Facebook ini disebut mid-roll ads. Sesuai dengan namanya, iklan berbayar ini akan ditempatkan di tengah-tengah penayangan video Facebook, sebagaimana dilansir laman GSM Arena. Iklan di tengah penayangan video ini akan muncul setelah 20 detik pertama video ditonton penggunanya.

    Facebook akan membagi nilai pendapatan antara perusahaannya dengan kreator konten dan menyimpan 45 persen dari nilai penjualan. Sedangkan kreator konten akan mendapat porsi 55 persen. Sistem penawaran ini sama dengan yang ditawarkan YouTube. Namun, iklan cara ini diduga lebih mengganggu ketimbang pre-roll ads yang digunakan oleh YouTube.

    Simak artikel lainnya tentang IGTV di kanal Tekno Tempo.co

    DAILY MAIL | THE VERGE | GSM ARENA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.