Rabu, 19 September 2018

Cina Mulai Manfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Keperluan Medis

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kecerdasan buatan. Clearbridge Mobile

    Ilustrasi kecerdasan buatan. Clearbridge Mobile

    Tempo.co, JakartaKecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) mulai beroperasi di sejumlah rumah sakit di Cina. Perusahaan teknologi paling mutakhir di Cina, Alibaba Group Holding, melakukan uji coba penggunaan kecerdasan buatan untuk operasional rumah sakit. Di Cina bagian timur, tepatnya kota Hangzhou, sebuah ambulans dapat melaju kencang melewati lampu hijau di jalan raya karena dibantu oleh sistem dan pengelolaan data AI.

    Inovasi pemanfaatan robot dalam dunia medis ini didorong oleh Alibaba untuk mendukung sektor kesehatan. Dana yang dihabiskan oleh Alibaba untuk inovasinya ini diperkirakan mencapai angka US$ 1 triliun hingga 2020, berdasarkan perhitungan McKinsey & Co. "Peluangnya bertumbuh sangat cepat," kata Kepala Peneliti Intelektualitas Mesin Alibaba Min Wanli.

    Baca juga: Waspada, Kecerdasan Buatan Bisa Memicu Perang Nuklir

    Alibaba bekerja sama dengan rumah sakit di Shanghai menggunakan data untuk memprediksi permintaan pasien dan mengetahui lokasi dokter. Di provinsi Zhejiang, perusahaan tersebut juga sedang menjalankan perangkat AI untuk membantu analisa gambar medis seperti CT scan dan MRI.

    Rumah sakit di Cina sedang mendongkrak pemanfaatan teknologi dalam mengurangi kesenjangan pusat kota dengan daerah pinggiran, ketika jumlah dokter mengalami kekurangan. Dengan mengandalkan sistem document-sharing dan tayangan siaran langsung, dokter spesialis dapat memberikan arahan pada staf medis junior di lapangan saat mendiagnosa pasien.

    Baca juga: Kecerdasan Buatan Bisa Mengganggu Stabilitas Politik, Kok Bisa?

    Walaupun sejumlah rumah sakit di Cina telah memanfaatkan teknologi AI, tapi masih banyak masyarakat Cina yang menilai pemanfaatan robot tersebut perlu menunggu beberapa saat. Pasien kanker di Shanghai Tony Li, 55, mengatakan ia hanya merasakan sedikit manfaat adanya robot AI dalam rumah sakit Cina.

    "Dari apa yang saya dengar sejumlah teknologi baru dapat membantu dokter dalam mengidentifikasi tumor pada stadium awal, dan itu bagus. Namun internet memiliki keterbatasan yang dapat melebih-lebihkan fakta, sehingga memberikan kami harapan palsu yang tinggi," katanya, sesuai yang dilansir dalam Reuters.

    Baca juga: Mungkinkah Kecerdasan Buatan Jadi Tuhan Baru di Masa Depan?

    Simak artikel menarik lainnya tentang kecerdasan buatan hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    REUTERS | NDTV | AUDREY ANGELICA LOHO | AMB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.