Jumat, 14 Desember 2018

Pemda Papua dan WWF Indonesia Bangun Pusat Belajar Konservasi

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peresmian pusat belajar konservasi dan ekologi oleh Pemerintah Provinsi Papua yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Papua Ani Rumbiak di Komplek Kantor WWF Indonesia Program Papua, Kampung Sereh, Sentani, Papua. WWF Indonesia

    Peresmian pusat belajar konservasi dan ekologi oleh Pemerintah Provinsi Papua yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Papua Ani Rumbiak di Komplek Kantor WWF Indonesia Program Papua, Kampung Sereh, Sentani, Papua. WWF Indonesia

    TEMPO.CO, Sentani - Pemerintah Papua dan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia meresmikan Pusat Belajar Konservasi dan Ekologi di kompleks kantor WWF-Indonesia Program Papua, Kampung Sereh, Sentani, Papua.

    "Masyarakat Papua perlu mendapat pengetahuan mengenai pengelolaan sumber daya alam dan konservasi. Sehingga bisa menjaga kekayaan alam Papua dan mendapat manfaat yang besar bagi kemakmuran orang Papua sendiri," ujar Staf Ahli Gubernur Papua Ani Rumbiak dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 Agustus 2018.

    Baca juga: Konservasi Macan Tutul Jawa Dirumuskan

    Pusat belajar ini merupakan pusat pendidikan lingkungan hidup yang terbuka untuk umum. Masyarakat bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dan dapat pengalaman menarik melalui praktik langsung, baik di dalam maupun luar ruang.

    Aneka aktivitas juga bisa diikuti, seperti berkebun dan mengidentifikasi tumbuhan hutan, membuat kertas daur ulang, mempelajari skema kerja panel surya, laboratorium air tawar, dan pengetahuan-pengetahuan konservasi lain.

    "Di learning center ini, kita bisa belajar bagaimana melestarikan bumi dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan kita di lingkungan rumah dan sekolah. Bahkan sampai bagaimana kita harus berbisnis yang baik agar sumber daya alam tetap terjaga," ucap Ani mewakili Gubernur Papua.

    Baca juga: Nelayan Kecil Dilibatkan dalam Konservasi Laut

    Learning center tersebut juga menjadi pusat pengembangan kapasitas serta pembelajaran komunitas dan kelompok dampingan WWF Indonesia. Kegiatannya antara lain pemetaan partisipatif, sistem informasi geografis, dan penginderaan jarak jauh.

    Menurut CEO WWF Indonesia Rizal Malik, kegiatan yang dilakukan WWF Indonesia di Papua merupakan bentuk komitmen untuk menyiapkan generasi penerus dengan kepekaan terhadap lingkungan. "Ini akan meningkatkan kepekaan pengetahuan dan komitmen dalam menjaga Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi," tuturnya.

    Gedung Holey Narey menjadi gedung keempat yang baru dibangun di dalam kompleks kantor WWF Indonesia di Sentani. Nama Holey Narey berasal dari bahasa Sentani, dan diberikan Bapak Amos Ondi, kepala suku atau Ondoafi sekaligus tokoh masyarakat adat Kampung Sereh. Holey berarti lingkungan hidup yang baik dan nyaman, sedangkan Narey berarti makhluk hidup yang tinggal di lingkungan tersebut.

    Selain sebagai learning center, gedung juga memiliki ruang pertemuan Kima berkapasitas 100 orang dan ruang Echidna berkapasitas 30 orang. Adapun sebagian gedung dijadikan ruang kerja bagi sekitar 30 karyawan. Gedung Holey Narey juga menerapkan prinsip-prinsip green building, antara lain dalam penggunaan energi, pemanfaatan kertas, serta meminimalkan jumlah sampah dan limbah. "Hal ini juga membuktikan kepada pemerintah daerah, masyarakat, dan publik bahwa WWF memiliki komitmen jangka panjang di tanah Papua," kata Rizal.

    Baca juga: Taman Safari Indonesia Menerima Dana Konservasi Orangutan

    Simak artikel menarik lain tentang konservasi hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komitmen Antikorupsi Partai Politik Diragukan

    Partai-partai mengklaim berkomitmen antikorupsi melawan korupsi setelah para petingginya ditangkap KPK. Berikut empat di antaranya....