Senin, 20 Agustus 2018

Misteri di Lagu The Beatles Ini Terungkap Pakai Matematika

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota band The Beatles menaiki pesawat sewaan mereka menuju dari bandara Seattle Tacoma menuju Vancouver, Kanada, Agustus 1964. Ini merupakan konser pertama mereka di Kanada. Dailymail.co.uk

    Anggota band The Beatles menaiki pesawat sewaan mereka menuju dari bandara Seattle Tacoma menuju Vancouver, Kanada, Agustus 1964. Ini merupakan konser pertama mereka di Kanada. Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Lagu A Hard Day's Night dari The Beatles punya akord pembuka paling terkenal, tapi siapa sangka lagu ini punya misteri yang ternyata bisa diungkap dengan matematika. Para penggemar musik rock ‘n roll pasti langsung lagu ini sejak menit awal dan seketika mulut pun ikut bernyanyi, "It’s been a hard day’s night..."

    Baca juga: Motor Honda Monkey John Lennon The Beatles Dilelang Rp 550 Juta

    Akord pembuka lagu tersebut memang sangat terkenal. Namun tidak seorang pun tahu kunci gitar apa yang dimainkan Harrison saat itu di dua detik awal. Musikus memiliki teori mereka sendiri, tapi tidak persis sama dengan yang (mungkin) dimainkan Harrison. Hingga akhirnya Jason Brown, matematikawan dari Dalhousie University di Nova Scotia, Kanada, mengungkap misteri tersebut.

    Brown mulai bermain gitar sejak mendengar rekaman The Beatles. "Yang sebetulnya saya belajar akord-akord musik mereka untuk kelas piano saya saat berumur 12 tahun," kata dia seraya tertawa ringan, seperti dikutip dari laman kampusnya, beberapa waktu lalu. "Dan rasanya tidak mungkin akord awal lagu A Hard Day’s Night bisa sangat sulit ditemukan."

    Baca juga: Slank Diminta seperti The Beatles

    Dia terinspirasi mengulik akord A Hard Day’s Night saat membaca liputan tentang perayaan ke-40 lagu yang juga titel album ketiga The Beatles ini. "Banyak orang membicarakan misterinya," ujarnya. Brown pun memutuskan untuk mencoba apakah bisa memecahkan teka-teki lagu itu.

    Ia mulai dari keahliannya: matematika. Brown mencoba menerapkan transformasi Fourier, model matematis yang biasa digunakan untuk menghitung proses perpindahan suara. Model ini menganalisis frekuensi bunyi masuk dan keluar untuk mengetahui karakteristik fisik tertentu dari suatu sinyal. Model tersebut ditemukan Jean Baptiste Joseph Fourier (21 Maret 1768-16 Mei 1830), fisikawan sekaligus matematikawan asal Prancis.

    Menurut Brown, transformasi Fourier memungkinkan untuk mengubah suara menjadi sebuah frekuensi. Dari data tersebut kemudian bisa diterjemahkan kembali ke dalam bentuk suara melalui analisis perangkat lunak komputer.

    Baca juga: Cara Mengajarkan Matematika kepada Anak Berkebutuhan Khusus

    Brown memang menemukan nada dasar akord pembuka lagu ini: F. Namun, setelah dianalisis lebih lanjut, frekuensi tersebut tidak sama dengan yang keluar dari alat musik para personel The Beatles, baik itu gitar John Lennon, bas Paul McCartney, Ringo Starr, maupun George Harrison. "Jadi, siapa yang memainkan dua detik pembuka itu?" kata Brown.

    Brown menyimpulkan bahwa George Martin, produser The Beatles yang juga kerap menjadi additional player, memainkan gitar lain. Teori yang diungkapnya ini sama sekali berbeda dengan literatur mana pun tentang lagu tersebut, yang juga merupakan salah satu alasan mengapa temuannya menjadi perhatian dunia. Bahkan dia mungkin satu-satunya matematikawan yang karyanya pernah dipublikasikan dalam majalah Guitar Player.

    Tak bisa dimungkiri lagi, tahun 1964 merupakan tahun tersibuk bagi The Beatles. Mereka melakukan rekaman siang-malam, manggung, dan syuting film. Kabarnya, album A Hard Day’s Night pun direkam hanya dalam satu hari.

    Sebelum meninggal, Harrison pernah ditanya sekelompok fan The Beatles tentang akord pembuka lagu itu. Sayangnya, gitaris penggemar tim sepak bola Everton ini hanya samar-samar mengingatnya, apalagi anggota The Beatles lain juga bersama-sama memainkan lagu tersebut. Dia sedikit ingat bahwa Martin memang membantu memainkan alat musik lain saat rekaman lagu itu.

    "Saya pikir sulit bagi mereka untuk mengingat dengan tepat apa yang dimainkan, mereka ingat gambar besar, tapi tidak semua detailnya," kata Matt Blackett, seperti dikutip dari laman The Wall Street Journal.

    Memang, musik adalah matematika yang paling sempurna, setidaknya bagi Brown. Musik dan matematika menggunakan otak dengan cara yang sama. Musik terbaik adalah analisis dan pola matematis yang tercipta secara estetis.

    Baca juga: Pecahkan Soal Aljabar, Pakar Matematika Terima Rp 40 Miliar

    Simak artikel menarik lainnya tentang matematika lagu The Beatles hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    DALHOUSIE UNIVERSITY | THE WALL STREET JOURNAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.