Buntut Sanksi AS ke Turki, Presiden Erdogan: Jangan Pakai iPhone

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyapa pendukungnya di Istanbul, Turki, 24 Juni 2018. Erdogan dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan Presiden Turki oleh Kepala Komisi Pemilihan Umum Turki. Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via REUTERS

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyapa pendukungnya di Istanbul, Turki, 24 Juni 2018. Erdogan dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan Presiden Turki oleh Kepala Komisi Pemilihan Umum Turki. Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melarang warga Turki untuk menggunakan produk elektronik dari Amerika Serikat, termasuk iPhone. Pemboikotan ini merupakan buntut dari tekanan yang dilakukan Amerika terhadap Turki.

    Baca juga: Nilai Tukar Lira Melemah, Erdogan Menantang Operasi Dolar Amerika

    "Kami akan boikot produk AS. Jika mereka punya iPhone, kami juga akan boikot. Kami punya produk dalam negeri, Venus Vastel," ujar Erdoan, seperti dilansir laman Hurretdaily News, Selasa, 14 Agustus 2018.

    Erdoan pun meminta rakyat Turki untuk menukar iPhone dengan Samsung atau produk dalam negeri Venus. Kalau hal ini didengar oleh puluhan juta rakyat Turki, tentunya akan membuat Apple terpuruk. Sebab, Apple memiliki market share 15 persen di Turki.

    Baca juga: Apple Bantah iPhone Bisa Rekam Pembicaraan Pribadi

    Selain itu, Erdoan juga meminta warga Turki untuk menukar mata uang asing dengan Lira. Tujuannya, menghambat inflasi.

    Baca juga: Erdogan: 'Sikap rasis terhadap Mesut Ozil tidak bisa diterima'

    Simak kabar terbaru dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan kabar terbaru iPhone hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    HURRIETDAILY NEWS | PHONE ARENA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.