Senin, 24 September 2018

Komite Olimpiade Larang Game Kekerasan Masuk Cabang eSport

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Indonesia, Sumarandak Ridel alias BenZerRidel, bertanding menghadapi pemain Cina, Huang Chenghui alias Lciopdi, dalam final Clash Royale eSports Asian Games 2018 di Britama Arena Jakarta, Jakarta, Senin, 27 Agustus 2018. ANTARA/INASGOC/Ady Sesotya

    Pemain Indonesia, Sumarandak Ridel alias BenZerRidel, bertanding menghadapi pemain Cina, Huang Chenghui alias Lciopdi, dalam final Clash Royale eSports Asian Games 2018 di Britama Arena Jakarta, Jakarta, Senin, 27 Agustus 2018. ANTARA/INASGOC/Ady Sesotya

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Olimpiade Internasional, IOC, melarang game kekerasan masuk dalam cabang olahraga eSport. Contohnya, Overwatch dan Counter-Strike, tidak akan muncul di Olimpiade karena terlalu mengerikan.

    Baca: Setelah Asian Games 2018, eSport akan Diusulkan Masuk Olimpiade
    Baca: eSport akan Masuk SEA Games 2019, Ini Persiapan Atlet Indonesia
    Baca: Indonesia Raih Emas eSport Asian Games 2018, Ini Kata Ketua IeSPA

     
    "Game yang disebut killer atau pembunuhan, dari sudut pandang kami bertentangan dengan nilai-nilai Olimpiade, karena itu tidak dapat diterima," ujar Presiden IOC Thomas Bach, seperti dilansir Metro.co.uk, Selasa, 4 September 2018.
     
    Hal itu membuat Bach tidak yakin eSport bisa masuk dalam Olimpiade. IOC telah menangani dengan serius tentang kemungkinan eSport masuk menjadi cabang olaharaga dalam gelaran Olimpiade mendatang.
     
    Menurut laman Associated Press, tidak jelas apa yang dimaksud Bach game apa yang dikategorikan sebagai game pembunuhan atau diskriminasi. Namun, dia mengisyaratkan bahwa tidak ada permainan yang menampilkan kekerasan atau pembunuhan yang bisa ditandingkan.
     
    "Tentu saja setiap olahraga tempur memiliki asal-usul dalam pertarungan nyata di antara orang-orang," tambah Bach. "Tapi olahraga adalah ekspresi yang beradab. Jika Anda memiliki e-games tentang membunuh seseorang, ini tidak dapat diselaraskan dengan nilai-nilai Olimpiade kami."
     
    Olimpiade terdekat akan digelar di Tokyo, Jepang pada tahun 2020. eSport juga sudah ditandingkan secara eksibisi dalam gelaran Asian Games 2018 yang baru saja selesai, dan kemungkinan akan kembali ditandingkan dalam gelaran SEA Games 2019 di Manila, Filipina, bahkan di olimpiade.
     
    Apa yang dikatakan Bach sepertinya tertuju pada beberapa game yang sudah sering dikompetisikan, seperti League Of Legends, Dota 2, Counter-Strike: Global Offensive, Overwatch, Starcraft II, PlayerUnknown Battlegrounds dan Fortnite.
     
    Hanya ada beberapa eSports populer yang tampaknya memenuhi syarat karena didasarkan pada olahraga dunia nyata, seperti FIFA dan Madden NFL.
     
    Simak artikel menarik lainnya tentang eSport dalam olimpiade hanya di kanal Tekno Tempo.co
     
    METRO.CO.UK | ASSOCIATED PRESS
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep