Senin, 24 September 2018

Skandal Data, 26 Persen Orang Amerika Hapus Akun Facebook

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo facebook. REUTERS/Philippe Wojazer/File Photo

    Logo facebook. REUTERS/Philippe Wojazer/File Photo

    TEMPO.CO, San Francisco - Sebuah penelitian Pew Research baru menyurvei pengguna Facebook untuk mengukur aktivitas mereka di situs itu selama 12 bulan. Hasilnya menunjukkan skandal privasi data Facebook telah berdampak pada pengguna media sosial itu, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, 5 September 2018.

    Baca:
    Fitur Facebook Watch Kini Hadir Secara Global, Apa Fungsinya?
    Facebook Beri Pelatihan Digital pada 15 Ribu UKM Indonesia

    Penelitian menemukan sebagian besar populasi telah memperpanjang jeda dari Facebook, sementara 26 persen telah menghapus aplikasi itu sepenuhnya.

    Untuk riset ini, peneliti melakukan jajak pendapat terhadap 4.594 orang dewasa Amerika Serikat antara 29 Mei dan 11 Juni.

    Dari responden tersebut, 54 persen di antaranya mengatakan mengubah pengaturan privasi mereka, sementara 42 persen telah berhenti dari situs itu. Secara keseluruhan, 74 persen dari responden tersebut telah mengambil setidaknya satu dari tindakan tersebut selama 12 bulan terakhir.

    Menariknya, Pew menemukan jawaban responden sangat berbeda, bergantung pada usia mereka. Peneliti menemukan pengguna yang lebih muda jauh lebih mungkin mengubah pengaturan privasi atau menghapus aplikasi Facebook dari telepon selulernya dibanding pengguna yang lebih tua.

    Sebanyak 44 persen pengguna berusia 18-29 tahun telah menghapus aplikasi Facebook dari ponselnya, sementara pada pengguna berusia 65 dan lebih tua hanya 12 persen.

    Selain itu, hanya sepertiga pengguna Facebook yang berusia 65 tahun dan yang lebih tua telah mengubah pengaturan privasi mereka dibanding 64 persen pengguna yang lebih muda.

    Angka serupa juga muncul tahun lalu untuk orang dewasa dan pengguna yang lebih muda berhenti dari Facebook.

    Temuan itu muncul seusai skandal Cambridge Analytica, yang mengguncang Facebook awal tahun ini.

    Pada Maret lalu ditemukan lebih dari 87 juta data pengguna tanpa sadar telah dipanen lembaga riset yang berafiliasi dengan Trump, Cambridge Analytica.

    Peristiwa ini memicu pengawasan ketat tentang bagaimana Facebook dan raksasa Silicon Valley lain mengelola dan mengamankan data pribadi pengguna. CEO Facebook Mark Zuckerberg bahkan muncul di depan kongres untuk membahas masalah tersebut.

    Perusahaan juga memperkenalkan kontrol privasi yang lebih besar bagi pengguna untuk mengelola data mereka. sementara meluncurkan kebijakan yang lebih ketat untuk pengiklan pihak ketiga di situs yang membatasi jenis data apa yang dapat mereka kumpulkan dari pengguna.

    Sebagai bagian dari kontrol privasi baru, Facebook mulai mengizinkan pengguna mengunduh dan meninjau data apa pun yang telah dikumpulkan situs tersebut.

    Survei Pew menemukan sekitar sepersepuluh atau sekitar 9 persen pengguna Facebook telah mengunduh data pribadinya di Facebook. Pew menjelaskan, "Meskipun ukuran mereka relatif kecil sebagai bagian dari populasi Facebook, pengguna ini sangat sadar privasi."

    “Sekitar setengah dari pengguna yang telah mengunduh data pribadi mereka dari Facebook (47 persen) telah menghapus aplikasi itu dari ponsel mereka, sementara 79 persen telah memilih untuk menyesuaikan pengaturan privasi mereka.”

    Sementara itu, Rabu pagi, 5 September, Phone Arena melaporkan COO Facebook Sheryl Sandberg bersaksi di depan Komite Senat tentang intelijen bersama dengan eksekutif lain dari perusahaan media sosial. Sidang diadakan untuk mempelajari bagaimana perusahaan-perusahaan ini menanggapi pengaruh asing di platform mereka.

    DAILY MAIL | PHONE ARENA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep