Listrik Tenaga Surya Diklaim Lebih Hemat, Begini Perhitungannya

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa kelas 11 jurusan listrik memasang panel sel surya di atap sekolah mereka di SMK Prakarya Internasional, Bandung, 30 Mei 2018. Pemasangan ini sebagai salah satu pembelajaran di bidang sumber energi berkesinambungan. TEMPO/Prima Mulia

    Siswa kelas 11 jurusan listrik memasang panel sel surya di atap sekolah mereka di SMK Prakarya Internasional, Bandung, 30 Mei 2018. Pemasangan ini sebagai salah satu pembelajaran di bidang sumber energi berkesinambungan. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan, sudah saatnya Indonesia menggunakan listrik tenaga surya untuk menjadi sumber daya utama. Alasannya, lebih hemat biaya jangka panjang.

    Baca juga: Inilah yang Terjadi Saat Kita Memiliki Banyak Tenaga Surya

    "Kalau tentang hemat dalam hal energinya, mungkin tidak. Karena bisa saja konsumsi energinya tetap. Tapi dari sisi biaya energinya bisa berpotensi berhemat," ujar Direktur Pengkajian Industri Manufaktur, Telematika, dan Elektronika BPPT Andhika Prastawa saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat, 6 September 2018.

    BPPT telah merekomendasikan tenaga surya untuk listrik dalam acara focus group discussion bertema "Penyusunan Roadmap Industri Manufaktur Komponen dan Usulan Kebijakan untuk Mempromosikan TKDN Industri Pembangkit Surya".

    Baca juga: Pertamina Bersiap Kembangkan Tenaga Surya

    Pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan telah mendorong tumbuhnya manufaktur komponen pembangkit tenaga surya di dalam negeri. Pemanfaatan energi surya menggunakan teknologi solar photovoltaic (PV) atau sel surya menjadi salah satu sumber energi pilihan.

    "Memang perhitungannya tidak sederhana. Dengan pelanggan memasang solar PV rooftop, yang terhubung jaringan PLN (Perusahaan Listrik Negara), pelanggan bisa mengurangi biaya tagihan PLN," ucap Andhika. "Pengurangan biaya tagihan itu dapat mengembalikan biaya peralatan solar PV rooftop selama lebih-kurang delapan tahun."

    Baca juga: Pertamina Bersiap Kembangkan Tenaga Surya

    Saat ini, Andhika melanjutkan, sudah mulai banyak perusahaan yang menyediakan sekaligus memasangkan solar PV. Harganya memang bisa dibilang mahal. Untuk instalasi 1 kW kira-kira dibanderol seharga Rp 15-20 juta.

    "Setelah delapan tahun, baru pelanggan dapat menggunakan listrik hemat biaya karena mendapat listrik gratis dari PV, di samping listrik PLN yang dikonsumsi," tutur Andhika. "Karena harga tarif listrik non-subsidi sebesar Rp 1.460 sehingga dapat mengembalikan modal dalam waktu delapan tahunan."

    Baca juga: Arab Saudi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya 200 Gigawat

    Simak artikel menarik lain tentang listrik tenaga surya hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.