Senin, 24 September 2018

BPPT Kembangkan Implan Tulang Berbahan Titanium

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengembangan implan tulang titanium oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kredit: Humas BPPT

    Pengembangan implan tulang titanium oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kredit: Humas BPPT

    TEMPO.CO, Jakarta - Keberhasilan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam inovasi implan tulang stainless steel tipe 316L (SS 316L) membuat BPPT kembali berinovasi dengan mengembangkan implan tulang dengan bahan lain. Kali ini dengan bahan yang lebih kuat, yakni titanium.

    Baca juga: Indonesia Sudah Mampu Membuat Prototipe Implan Tulang

    "Bahan titanium patut menjadi pilihan, khususnya dalam menciptakan inovasi implan tulang yang akan digunakan sebagai pengganti tulang panggul, tulang lutut, atau implan tulang traumatik," ujar perekayasa utama dari Pusat Teknologi Material (PTM), I Nyoman Jujur, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 8 September 2018.

    Sebelumnya, BPPT berhasil mengembangkan inovasi implan tulang berbahan stainless steel tipe 316L (SS 316L). Implan tersebut dikirim BPPT ke Lombok untuk para korban gempa yang menderita patah tulang.

    Baca juga: Produksi Alat Kesehatan, BPPT Kembangkan Implan Tulang

    Inovasi implan tulang terus dikembangkan untuk mencari material baru sehingga menghasilkan produk-produk jenis implan tulang yang lebih maju. Hal ini sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

    "Saat ini implan tulang panggul masih 100 persen impor dari luar negeri. BPPT tengah mengembangkan implan berbahan titanium untuk digunakan pada tulang panggul. Sudah bermitra dengan salah satu industri lokal di Klaten, Jawa Tengah," kata Nyoman.

    Nyoman, yang juga Kepala Program Kegiatan Biokompatibel Material untuk Alat Kesehatan, menjelaskan, titanium bersifat ringan. Menurut dia, ketahanan karat dan kekuatan mekanisnya tinggi, sehingga lebih kuat, juga sifat bikompatibilitas-nya yang sangat baik untuk material implan tulang.

    Baca juga: Ilmuwan Ini Bikin Tulang Arfisial dari Lemak

    Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 273,65 juta jiwa pada 2025. Pada tahun yang sama, angka harapan hidup diperkirakan mencapai 73,7 tahun, meningkat cukup tinggi dari angka 69,0 tahun pada saat ini.

    "Kondisi ini ke depannya memerlukan pengembangan implan degeneratif, seperti pengganti tulang pinggul dan lutut," kata Nyoman. "Diharapkan pengembangan implan berbahan titanium ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, khususnya Kementerian Kesehatan."

    Menurut Nyoman, tahapan pembuatan material titanium sangat reaktif, sehingga memerlukan peralatan yang canggih, seperti peleburan dan rekayasa material dalam dapur vakum. Selain itu, keunggulan proses bahan implan titanium mampu dibuat dengan teknologi cetakan presisi, sehingga sedikit memerlukan proses pemesinan serta dapat diproduksi massal dan bisa menekan biaya pembuatan.

    "Titanium, selain digunakan untuk material implan tulang, bisa untuk material implan gigi dan kebutuhan alat medis lainnya," tuturnya.

    Baca juga: Penjelasan Spesialis Ortopedi Soal Kelainan Tulang Belakang

    Koordinator Pusat Unggulan Iptek Material Medis PTM BPPT, Agus Hadi Wargadipura, mengatakan implan tulang berbahan titanium juga menjadi pendorong bagi BPPT, khususnya pada Pusat Teknologi Material, untuk bertahan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) Material Medis.

    "Kami akan berupaya menguatkan tata kelola kelembagaan untuk mendukung pengembangan dan penerapan implan tulang," ucap Agus. "Pengembangan implan tulang buatan lokal terus dikejar, mengingat manfaatnya sangat besar untuk masyarakat luas. Kami juga terus melakukan sinergi dengan Pusat Unggulan lainnya serta menghasilkan publikasi ilmiah yang berbobot."

    Agus berharap potensi lokal yang tersebar di Tanah Air dalam pengembangan alat kesehatan dapat bersinergi untuk meningkatkan daya saing industri alat kesehatan. "Sinergi berbagai pihak, khususnya dokter ortopedi, sangat dibutuhkan untuk mendukung dan memanfaatkan produksi alat kesehatan implan tulang hasil pengembangan industri lokal agar kita tidak impor," katanya.

    Baca juga: BPPT: Indonesia Harus Manfaatkan Listrik Tenaga Surya

    Simak artikel menarik lainnya tentang implan tulang dari kabar terbaru dari BPPT hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep