Tidak Seseram di Film, Begini Rasanya Masuk Reaktor Nuklir BATAN

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengunjungi reaktor nuklir RDE milik Badan Tenaga Nuklir Nasional di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa, 25 September 2018. (batan.go.id)

    Warga mengunjungi reaktor nuklir RDE milik Badan Tenaga Nuklir Nasional di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa, 25 September 2018. (batan.go.id)

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Imam Gunawan, warga Serua, Tangerang Selatan, baru pertama kali masuk ke reaktor nuklir milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sebelumnya, ia membayangkan reaktor nuklir seperti di film-film.

    "Saya pikir seram karena ada kata 'nuklir'-nya itu. Tapi saat masuk ke dalam, isinya sangat menarik," ujar pria berumur 30 tahunan itu, Selasa, 25 September 2018.

    Baca juga: Desain Reaktor Baru Batan Karya Anak Bangsa Diluncurkan

    Imam yang baru pertama kali masuk kedalam ruang reaktor nuklir ini juga mengatakan bahwa menyenangkan bisa masuk kedalam ruang reaktor dan mendapat pengetahuan tentang nuklir. "Masih seram kalau kita masuk rumah sakit atau kamar jenazah. Tapi masuk kedalam reaktor ini cukup menarik. Saya tinggal di Serua sejak 1995, tapi saya baru pertama kali masuk kesini," katanya.

    Imam merupakan salah satu dari 200 orang perwakilan dari 17 kelurahan di wilayah Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor melihat langsung bagaimana reaktor nuklir di BATAN bekerja. Di tempat yang sama, Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir BATAN, Suryantoro, menjelaskan pengunaan Indonesia nuklir tidak dimanfaatkan untuk senjata.

    "Tapi teknologi nuklir dimanfaatkan untuk berbagai bidang, seperti pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan. Indonesia tidak mengembangkan nuklir untuk senjata," kata Suryantoro.

    Baca juga: Batan dan Kimia Farma Bikin Produk Nuklir untuk Diagnosis Kanker

    Menurut dia, hingga kini banyak masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah Kawasan Puspitek, Serpong belum sepenuhnya memahami bahwa teknologi nuklir mampu dimanfaatkan untuk kesejahteraan. Salah satu pemanfaatan teknologi nuklir, kata Suryantoro, yang selalu hangat dibicarakan adalah sebagai pembangkit energi listrik.

    "Dengan berbekal pengalaman selama 60 tahun dalam mengelola tiga fasilitas nuklir berupa reaktor riset dan fasilitas lainnya, BATAN kini telah menyusun rencana pembangunan Reaktor Daya Ekperimental (RDE). Saat ini rencana pembangunan RDE telah memasuki babak pembuatan Detail Engineering Design (DED)," katanya.

    Program pembangunan RDE ini, lanjut Suryantoro, perlu disampaikan kepada masyarakat secara terus menerus, agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh tentang pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejateraan.

    "Selain program pembangunan RDE, Batan juga perlu mengenalkan fasilias nuklirnya, agar masyarakat merasa ikut memiliki dan menerima teknologi nuklir, masyarakat harus memahami dan dapat memanfaatkan keberadaan fasilitas nuklir di kawasan Puspiptek Serpong untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia khusunya bagi pemerintah Kota Tangerang Selatan," katanya.

    Baca juga: Insinyur Lokal Perlu Belajar Energi Nuklir yang Aman ala Jepang

    RDE merupakan reaktor daya dengan kapasitas 10MWt atau setara dengan 3MWe. Ini merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia telah mampu merencanakan, membangun dan mengoperasikan reaktor daya dengan aman dan selamat. Selain penghasil listrik, RDE ini digadang-gadang dapat dimanfaatkan untuk produksi gas hidrogen dan pencairan batu bara.

    RDE menggunakan teknologi High Temperature Gas Coolled Reactor (HTGR) yang merupakan desain reaktor generasi ke-4. HTGR ini merupakan reaktor yang mengedepankan tingkat keselamatan yang tinggi.

    Baca juga: BATAN: Listrik dari Tenaga Nuklir Menghemat Pembayaran 50 Persen

    Simak artikel menarik lainnya tentang reaktor nuklir milik BATAN hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara dengan Persentase Perokok Terbanyak Indonesia Tertinggi

    Jumlah perokok pria lebih banyak daripada wanita. WHO mencatat jumlah perokok di kawasan Asia dan Afrika meningkat.