Selasa, 23 Oktober 2018

Banjir Bandang Berpotensi Terjadi di Lombok, Begini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gempa yang melanda Lombok, NTB sejak akhir Agustus hingga awal September 2018 tercatat kerusakan akibat gempa mencapai Rp 10 triliun.

    Gempa yang melanda Lombok, NTB sejak akhir Agustus hingga awal September 2018 tercatat kerusakan akibat gempa mencapai Rp 10 triliun.

    TEMPO.CO, Surakarta - Setelah gempa, banjir bandang diprediksi bisa terjadi di Lombok. Prediksi dari hasil kajian Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Aliran Sungai (BPPDAS) itu menyebutkan bahwa gempa bumi yang terjadi bertubi-tubi di Lombok mengakibatkan longsor yang terjadi di banyak titik.

    Baca juga: Usai Gempa, Banjir Bandang Diprediksi Intai Lombok

    "Longsoran ini harus diwaspadai," kata peneliti dari BPPDAS, Endang Savitri di Surakarta, Kamis 27 September 2018. Menurut dia, pasca gempa bumi, keberadaan longsoran sering kali kurang mendapat perhatian. Apalagi, jika longsoran tersebut terjadi jauh dari permukiman. Longsoran juga sering terjadi di sekitar aliran sungai.

    Endang meminta pemerintah daerah setempat diminta waspada dan melakukan upaya-upaya pencegahan. "Longsoran ini bisa membentuk sebuah bendung alami," kata Endang. Bendung itu membuat aliran sungai menjadi terhambat dan mengumpul dalam volume yang besar. "Pada titik tertentu bendung itu jebol dan menjadi banjir bandang," katanya.

    Baca juga: Banjir Bandang di Nigeria, 100 Orang Tewas

    Berdasarkan peta geologi Pulau Lombok, terdapat beberapa patahan yang memotong sungai yang ada di pulau itu. Daerah patahan tersebut berpotensi longsor dan dapat menutup aliran sungai.

    Hasil identifikasi menunjukkan bahwa daerah yang sangat rentan banjir bandang meliputi Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah. Sedangkan daerah rentan banjir bandang berada di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur.

    Daerah yang diprediksi aman dari ancaman banjir bandang berada di beberapa bagian di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Hanya 2,4 persen Pulau Lombok yang aman dari ancaman bencana alam itu.

    Baca juga: 5 Banjir Mematikan di Dunia Sepanjang 2018

    "Salah satu solusinya adalah dengan memantau adanya longsoran serta penumpukan material di aliran sungai," kata Kepala BPPDAS, Nur Sumedi. Hal itu bisa dilakukan pleh pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Penumpukan material yang membentuk bendung alami harus segera dibersihkan agar tidak menghambat aliran air.

    Baca juga: Kesaksian Warga saat Banjir Bandang Cicaheum Terjadi

    Simak kabar terbaru tentang potensi gempa, banjir bandang, dan bencana lainnya di seluruh wilayah Indonesia hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.