Selasa, 23 Oktober 2018

Ahli ITB Ungkap Faktor Penyebab Tsunami Teluk Palu

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana permukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. ANTARA/BNPB

    Suasana permukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. ANTARA/BNPB

    TEMPO.CO, BANDUNG - Gempa Donggala yang bermagnitudo 7,7 pada Jumat, 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB diwarnai oleh kejadian tsunami. Air laut setinggi tiga meter masuk ke teluk hingga sampai ke Kota Palu. Beberapa dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung mengulas penyebab tsunami itu.

    Baca: Gempa Donggala dan Tsunami Palu Disebabkan Sesar Palu-Koro
    Baca: Kenang Tsunami 2004, Aceh Uji Sirene Tsunami di 6 Lokasi

    Dari sudut pandang ilmu kebumian, yaitu ilmu geologi dan ilmu kelautan, kenaikan air laut ini bukan saja disebabkan oleh gempa. "Tapi bisa diperkuat juga oleh bentuk (geometri) pantai Teluk Donggala dan memiliki analog dengan yang dikenal sebagai fenomena tidal bulge atau tidal bore," kata ahli Teknik Sedimentologi dari Geologi ITB Dardji Noeradi , Sabtu, 29 September 2018.

    Bambang Priadi, yang juga staf pengajar Geologi ITB, menambahkan bahwa fenomena itu diartikan sebagai efek air pasang yang terjadi terutama pada delta yang bentuknya seperti corong. Di dunia, efek air pasang ini terekam di Teluk Benggala Bangladesh dan Teluk Fundy di Kanada. Di Bangladesh, yang terletak dekat Teluk Benggala, fenomena itu sering menyebabkan banjir sebagai akibat dari badai yang terjadi jauh dari pantai.

    Kejadian itu karena bentuk Teluk Benggala yang menyempit ke
    arah utara membuat amplifikasi gelombang ke arah Bangldesh. Kondisi pasang surut biasa itu diperkuat (diamplifikasi) dengan geometri teluk. "Gelombang air laut setelah mengenai tepi teluk memantul dan beresonansi dengan gelombang laut dari sisi teluk yang berhadapan," katanya.

    Saat itu pasang surutnya bisa mencapai 15 meter dan bukan karena tsunami. Kondisi pasang surut biasa itu diperkuat (diamplifikasi) dengan geometri teluk. "Gelombang air laut setelah mengenai tepi teluk memantul dan beresonansi dengan gelombang laut dari sisi teluk yang berhadapan," katanya.

    Peristiwa Tidal bulge adalah fenomena geologi yang terjadi saat matahari, bumi, dan bulan dalam satu garis sehingga bisa menimbulkan "semacam gelombang pasang" yang tingginya hanya beberapa sentimeter saja di samudra yang luas. Saat mencapai garis pantai yang berbentuk teluk, gelombang yang relatif rendah tersebut mengalami amplifikasi, sehingga bisa mengakibatkan perbedaan pasang-surut yang besar.

    "Mekanisme amplifikasi akibat geometri teluk tersebut diduga mempunyai kontribusi terjadinya tsunami yang relatif besar di Teluk Palu, karena di tempat lain seperti di Mamuju pasangnya hanya 6 sentimeter dan di Donggala hanya 50 sentimeter," ujar. Noeradi.

    Meski begitu, menurut Noeradi, tak menutup kemungkinan amplitudo tsunami di Palu yang relatif besar disebabkan oleh faktor jarak terhadap pusat gempanya. "Dari penjelasan tersebut mudah-mudahan cukup jelas bahwa tsunami di Palu tidak ada kaitanya dengan Tidal bulge, tetapi sumbernya tetap gempa yg terjadi dan di amplifikasi oleh teluk yang sedemikian rupa," kata dia.

    Kenaikan air laut yang semula kecil akibat tsunami, bisa saja diperkuat oleh bentuk morfologi pantai tempat gempa terjadi. Teluk Donggala memiliki orientasi utara-barat laut-selatan-tenggara. Lautan dari Selat Makassar menjorok sekitar 30 kilometer ke dalam bagian tengah Pulau Sulawesi sisi sebelah barat yang berujung di Kota Palu.

    Teluk Donggala memiliki lebar kurang dari 10 kilometer. Kedalaman teluk ini berangsur dari pantai hingga maksimum 200 meter menurut pengukuran batimetri oleh Bappeda Kota Palu.

    "Gempa tektonik yang memicu longsoran di bawah laut serta geometri Donggala adalah penjelasan mengapa tsunami bisa terjadi dengan amplitudo yang meningkat saat mencapai daratan," kata Benyamin Sapiie, ahli Tektonik dari Geologi ITB.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bermagnitudo 7,7 terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah, tepatnya di Garis Lintang 0.18 LS dan Garis Bujur 119.85 BT pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. Gempa diumumkan dengan potensi tsunami.

    Sementara itu, peneliti gempa dari Geoteknologi LIPI Bandung Mudrik Daryono mengatakan, tsunami di Teluk Palu bisa terjadi akibat beberapa faktor, seperti retakan permukaan yang bergerak vertikal. Bisa pula akibat bidang sesar yang miring serta longsoran bawah laut dengan kondisi palung laut di daerah itu curam dan dalam. "Perlu penelitian lebih dalam soal sebab pastinya," kata Mudrik.

    Keterangan ralat:
    Redaksi menambahkan paragraf ke-6 setelah mendapatkan penjelasan tambahan konteks tentang Tidal bulge dari narasumber.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.