Selasa, 23 Oktober 2018

Ahli ITB Duga Longsor Bawah Laut Picu Tsunami Palu, Ini Tandanya

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah sehari setelah disapu gelombang Tsunami dan gempa berkekuatan 7,4 SR pada Jumat, 28 September 2018. TEMPO/Syafiul Hadi

    Kondisi Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah sehari setelah disapu gelombang Tsunami dan gempa berkekuatan 7,4 SR pada Jumat, 28 September 2018. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Bandung - Ahli tsunami dan peneliti Pusat Penelitian Kelautan, Institut Teknologi Bandung atau ITB, Hamzah Latief, mengatakan tsunami Palu akibat gempa Donggala, Jumat, 28 September 2018, diduga salah satunya dipicu longsor bawah laut.

    Baca: Gelombang Pasang Berperan pada Tsunami Palu? Simak Penjelasannya
    Baca: 4 Kelurahan di Palu yang Rawan Gempa Bumi dan Tsunami

    “Sepertinya ini kombinasi antara gempa yang diakibatkan deformasi bawah laut akibat gempa, dan juga tsunami akibat longsoran itu. Gempanya di luar, dan longsorannya di dalam teluk (Palu),” kata Hamzah Latief saat dihubungi Tempo akhir pekan lalu.

    Hamzah menganalisanya, selain lewat model tsunami yang dikembangkannya sejak lama, juga dari tayangan video viral yang merekam detik-detik tsunami di pantai Palu. “Kalau Anda perhatikan video yang di atas kapal itu, airnya tidak menjalar, tapi bergejolak, air dari atas ke bawah, dan keruh. Warna keruh itu menandakan longsoran sedimen,” kata dia.

    Video kedua yang menjadi perhatiannya adalah detik-detik tsunami Palu yang direkam warga dari atas suatu bangunan. Dalam video viral tersebut terlihat pemandangan pantai yang sempat surut, dan tak lama terlihat gulungan ombak menerjang pantai hingga sempat melanda masjid yang kubahnya ambruk dihajar gempa.

    “Sedangkan di video yang di ambil dari atasa bangunan itu, airnya terlihat putih, bersih. Itu berarti air dari laut lepas,” kata Hamzah.

    Hamzah mengatakan, sejumlah penelitiannya terhadap peristiwa sejarah tsunami di pantai Palu menguatkan dugaannya. Salah satunya saat dia mewawancarai penduduk setempat di lokasi tersebut tahun 2012.

    “Warga bilang, kalau ada gempa, biasanya di muara sungai bergejolak. Air itu turun naik. Itu adalah gempa-gempa strike-slip, gempa bergeser datar, suka terlihat seperti itu,” katadia.

    Hamzah mengatakan, penelitiannya terhadap peristiwa gempa yang memicu tsunami di Tali Abu, Sulawesi Tengah, berada tak jauh di utara dari lokasi gempa yang terjadi kemarin, juga menguatkan dugaannya.

    ”Gempa Tali Abu 1968 kan masih ada saksi matanya. Saya juga mewawancarai warga di luar teluk (Palu), tinggi tsunami saat itu sekitar 3-5 meter. Catatan di dalam teluk juga tinggi. Sejarahnya itu bisa antara 6-7 meter,” kata dia.

    Menurut Hamzah, sejarah tsunami di Palu umumnya relatif bersifat lokal. “Tsunaminya sangat lokal. Di mana kalau kita modelkan dengan model konvensional, gak muncul. Itu makanya kita perkirakan itu disebabkan longsoran bawah laut,” kata dia.

    Hamzah mengatakan, peristiwa gempa umumnya memicu longsor. “Gerakan tanah itu (longsor bawah laut) yang memicu tsunami dari dalam teluk. Tsunaminya melanda semua daerah di luarnya,” kata dia. “Menjalarnya tidak terlalu jauh, karena terpusat di situ.”

    Hamzah juga melakukan pemodelan pembentukan tsunami. “Hasilnya tinggi gelombang itu antara 3-5 meter. Itu dari hasil analisis. Tapi kita akan ke lapangan untuk mengukurnya,” kata dia.

    Simak artikel lainnya tentang tsunami Palu di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.