Selasa, 23 Oktober 2018

Ikatan Alumni ITB Gelar Misi Kemanusiaan dan Riset Tsunami Palu

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, pasca-gempa dan tsunami, Senin, 1 Oktober 2018. Tsunami menghantam Pantai Taipa setelah guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR. ANTARA

    Foto aerial kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, pasca-gempa dan tsunami, Senin, 1 Oktober 2018. Tsunami menghantam Pantai Taipa setelah guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR. ANTARA

    TEMPO.CO, Bandung - Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah menyiapkan kapal riset Baruna Jaya I BPPT untuk dua misi, yaitu bantuan kemanusiaan dan survei ilmiah soal tsunami Palu yang merupakan dampak Gempa Donggala, Jumat pekan lalu.

    Baca: Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Gempa Blitar dan Tsunami Palu
    Baca: Selain Gempa dan Tsunami, Ada Likuifaksi di Palu, Apa Itu?
    Baca: Alasan Tsunami di Teluk Lebih Berbahaya Dibanding Pesisir Terbuka

    "Kita lagi persiapan untuk bawa bantuan kemanusiaan khususnya yang besar-besar dan berat yang sulit diangkut moda transportasi lain," kata Ketua Ikatan Alumni ITB Ridwan Djamaluddin saat dihubungi Selasa, 2 Oktober 2018.

    Barang yang akan diangkut itu seperti sistem air minum, bahan bakar minyak. Penyumbang lain bisa menitipkan peralatan medik dan obat, genset, toilet darurat, dan sepeda. Sementara ini pengangkutan hanya akan dilakukan dengan satu unit kapal.

    Kapasitas muatan kapal itu, kata Ridwan, sebanyak 250 ton. "Memang tidak lebih cepat dari pesawat, tapi kita usahakan semaksimal mungkin," kata Deputi Infrastruktur Kementerian Koordinator Maritim itu.

    Perkiraan lama tempuh kapal sampai ke Pelabuhan Pantoloan sekitar 4,5 hingga 5 hari. Menurut Ridwan, mereka tidak memprioritaskan kecepatan melainkan pengangkutan logistik penting bagi korban yang sulit diangkut kendaraan lain.

    Kapal riset Baruna Jaya I BPPT itu rencananya akan diberangkatkan Selasa malam ini, 2 Oktober 2018 dari pelabuhan Tanjung Priok. Namun pihaknya, kata Ridwan, masih mempertimbangkan waktunya atau bisa mundur. "Tergantung sudah maksimal belum barangnya atau menunggu kiriman barang datang," ujarnya.

    Selain barang, kapal itu juga disiapkan untuk mengangkut para relawan untuk trauma healing serta teknisi peralatan yang dibawa. Pihaknya kata Ridwan, membatasi relawan kemanusian yang ikut. Penumpang lainnya yakni tim peneliti gabungan antara lain dari ITB, LIPI, dan BPPT.

    Tim akan terlibat dalam misi survei untuk mengetahui fenomena tsunami di Teluk Palu yang sejauh ini masih jadi tanda tanya besar soal penyebabnya. "Ini penting, kita belum tahu persis apa yang terjadi di dasar laut sana," ujar Ridwan.

    Misi bantuan kemanusiaan sekaligus riset tsunami Palu itu digagas Ikatan Alumni ITB yang kemudian bekerja sama dengan berbagai pihak dan lembaga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.