Aliran Lava Pijar Gunung Anak Krakatau Telah Mencapai Laut

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava, yang terlihat dari perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis, 19 Juli 2018. Data Vulcano Activity Report (VAR) mencatat Gunung Anak Krakatau telah meletus 272 kali. ANTARA FOTO/Elshinta

    Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava, yang terlihat dari perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis, 19 Juli 2018. Data Vulcano Activity Report (VAR) mencatat Gunung Anak Krakatau telah meletus 272 kali. ANTARA FOTO/Elshinta

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Kristianto membenarkan aliran lava pijar yang dihasilkan dari letusan Gunung Anak Krakatau telah mencapai pantai.

    Baca: Gunung Anak Krakatau Lontarkan Lava Pijar, Terdengar Dentuman
    Baca: Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Gempa Sumba, Gunung Anak Krakatau
    Baca: Letusan Gunung Anak Krakatau Masuki Tahap Akhir

    “Ini masih lanjutan dari aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau,” kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Kristianto mengatakan aliran lava pijar dari kawah Gunung Anak Krakatau ditemukan pertama kali muncul di awal September 2018 saat tim PVMBG memeriksa gunung itu. “Awal bulan September tim ke lapangan, sudah melihat ada aliran lava,” kata dia.

    Menurut Kristianto, saat itu aliran lava masih belum mencapai pantai. Aliran lava tersebut didapati meleler di sisi selatan Gunung Anak Krakatau mencapai pantai hari Senin, 1 Oktober 2018.

    “Aliran lava ini mengalir ke arah selatan dari puncak. Kemudian mengalir ternyata sampai pantai. Ketika lava tersebut kontak dengan air laut, terjadi letupan-letupan di pantai. Panas bertemu dengan air, itu asapnya ngebul putih di pantai itu,” kata dia.

    Kristianto mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini terus terjadi erupsi strombolian, dengan melontarkan material pijar dari kawahnya. “Sekarang letusan ini diikuti oleh aliran lava,” kata dia.

    Kristianto mengatakan, aliran lava hasil erupsi gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih terus mengalir mencapai pantai. “Hembusan abu juga terus keluar. Aliran lava juga keluar. Dan itu simultan sampai sekarang,” kata dia.

    Menurut Kristianto, aliran lava tersebut merupakan fenomena biasa yang terjadi pada erupsi gunung api. Dia memastikan aliran lava tersebut tidak berbahaya bagi warga seputaran Anak Gunung Krakatau asalkan warga tidak mendekat hingga ke daerah pantai pulau gunung api itu.

    PVMBG sejak Agustus 2018 memutuskan memperlebar areal daerah terlarang untuk dimasuki warga di seputaran Gunung Anak Krakatau, dari radius 1 kilometer menjadi 2 kilometer karena teramati sejumlah lontaran material pijar letusan gunung itu sudah mencapai bibir pantai Pulau Anak Krakatau. “Pantai itu berada dalam radius 2 kilometer,” kata Kristianto.

    PVMBG mendapati dalam beberapa bulan terakhir terjadi indikasi peningkatan suplai magma Gunung Anak Krakatau. Material pijar yang terlontar akibat letusan Strombolian, yang menjadi ciri khas gunung itu, asalnya hanya terlontar seputaran kawah gunung itu, kini terpantau sudah mencapai garis pantai.

    Kini letusan Gunung Anak Krakatau menghasilkan aliran lava pijar yang sudah mencapai pantai pulau gunung api tersebut. “Untuk publik ini sebenarnya aman. Asal tidak mendekat radius 2 kilomter itu,” kata Kristianto.

    Kristianto mengatakan, PVMBG masih belum menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Statusnya masih Waspada (Level II),” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.