Terus Erupsi, Tinggi Gunung Anak Krakatau Capai 338 Meter

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan di kaki Gunung Anak Krakatau terlihat dari pesawat Casa milik TNI AL yang tengah melakukan Patroli Udara Maritim di Selat Sunda, 20 April 2015. Gunung ini setiap bulannya mengalami peninggian kurang lebih 20 inci, saat ini pertumbuhannya sudah mencapai ketinggian kurang lebih sekitar 230 meter di atas permukaan laut. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Hutan di kaki Gunung Anak Krakatau terlihat dari pesawat Casa milik TNI AL yang tengah melakukan Patroli Udara Maritim di Selat Sunda, 20 April 2015. Gunung ini setiap bulannya mengalami peninggian kurang lebih 20 inci, saat ini pertumbuhannya sudah mencapai ketinggian kurang lebih sekitar 230 meter di atas permukaan laut. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kristianto, mengatakan lembaganya sudah melakukan pengukuran terakhir Gunung Anak Krakatau.

    “Ketinggian puncaknya sudah 338 meter di atas permukaan laut,” kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Baca: Aliran Lava Pijar Gunung Anak Krakatau Telah Mencapai Laut
    Baca: Gunung Anak Krakatau Lontarkan Lava Pijar, Terdengar Dentuman
    Baca: Letusan Gunung Anak Krakatau Masuki Tahap Akhir

    Kristianto mengatakan, tim PVMBG yang dikirim memeriksa Gunung Anak Krakatau tersebut melakukan pengukuran untuk menghitung ketinggiannya. “Kemarin baru di-update. Tim terakhir itu sampai pertengahan September 2018 kemarin,” kata dia.

    Kristianto mengatakan, ketinggian Gunung Anak Krakatau sudah bertambah. Pengukuran sebelumnya  gunung tersebut memiliki ketinggian 305 meter. “Itu hasil yang dulu,” kata dia.

    Gunung Anak Krakatau sampai saat ini masih dalam proses erupsi. “Posisi terakhir, erupsi masih terus terjadi,” kata Kristianto.

    Kristianto mengatakan pos pemantauan kemarin mendapati Gunung Anak Krakatau mencatat terjadinya tremor menerus. Aktivitas tersebut menyulitkan pencatatan aktivitas kegempaan. “Tadi pagi tremor menerus terus, sehingga (pencatatan) gempa tertutup, tidak bisa terbaca,” kata dia.

    Amplitudo tremor menerus yang dicatat terakhir akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau menembus 45 milimeter. “Amplutudo dominan 45 milimeter. Lumayan besar. Itu hampir overscale di seismograf. Kalau ada gempa, letusan jadi sulit terbaca,” kata Kristianto.

    Kristianto mengatakan seismograf yang mencatat terjadinya tremor menerus tersebut mengindikasikan aktivitas material vulkanik di Gunung Anak Krakatau. “Tremor tadi mengindikasikan ada keluaran material vulkanik ke permukaan. Bisa berupa hembusan, bisa aliran lava,” kata dia.

    PVMBG sejak Agustus 2018 memutuskan memperlebar areal daerah terlarang untuk dimasuki warga di seputaran Gunung Anak Krakatau, dari radius 1 kilometer menjadi 2 kilometer karena teramati sejumlah lontaran material pijar letusan gunung itu sudah mencapai bibir pantai Pulau Anak Krakatau. “Pantai itu berada dalam radius 2 kilometer,” kata Kristianto.

    PVMBG mendapati dalam beberapa bulan terakhir terjadi indikasi peningkatan suplai magma Gunung Anak Krakatau. Material pijar yang terlontar akibat letusan Strombolian, yang menjadi ciri khas gunung itu, asalnya hanya terlontar seputaran kawah gunung itu, kini terpantau sudah mencapai garis pantai.

    Kini letusan gunung Anak Krakata menghasilkan aliran lava pijar yang sudah mencapai pantai pulau gunung api tersebut. “Untuk publik ini sebenarnya aman. Asal tidak mendekat radius 2 kilomter itu,” kata Kristianto.

    Kristianto mengatakan, PVMBG masih belum menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Statusnya masih Waspada (Level II),” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.