Selasa, 23 Oktober 2018

Beberapa Faktor Penyebab Tsunami Palu Makan Banyak Korban

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemakaman ini merupakan pemakaman tahap pertama korban gempa dan tsunami Palu yang ditemukan.

    Pemakaman ini merupakan pemakaman tahap pertama korban gempa dan tsunami Palu yang ditemukan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli madya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suprayoga Hadi menjelaskan bahwa ada hal yang cukup menganggu jika memperhatikan sebelum kejadian tsunami Palu, Jumat, 28 September 2018 lalu. Menurutnya, banyak masyarakat yang tidak melakukan penyelamatan dari bibir pantai.

    Baca juga: Bantuan Bencana Gempa dan Tsunami Palu Dicegat Warga di Donggala

    "Banyak yang tidak menyelamatkan diri, walaupun sudah memahami bahwa pasca kejadian gempa, kemudian terjadi penyusutan muka air laut. Itu merupakan salah satu tanda akan terjadi gelombang tsunami, yang dalam hitungan menit akhirnya benar-benar menyapu wilayah pantai salah satu ikon wisata di Kota Palu itu," ujar Suprayoga, dalam keterangan tertulis, Ahad, 30 September 2018.

    Gempa Donggala bermagnitudo 7,4 yang berujung tsunami mengakibatkan 1.407 korban jiwa. Jatuhnya korban jiwa di pesisir pantai Sulawesi Tengah itu, kata Suprayoga, sebenarnya bisa dihindari. Pemahaman masyarakat harusanya terbangun terhadap potensi kejadian gelombang tsunami pasca gempa bumi yang terjadi, dengan belajar dari bencana gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004.

    Baca juga: Pasca Tsunami Palu, Lima ATM Nyaris Dijarah di P

    "Ada beberapa contoh bencana gempa dan tsunami di Indonesia, seperti di Pangandaran di 2008 dan di Kepulauan Mentawai di 2009. Rendahnya pemahaman dan kewaspadaaan masyarakat di Kota Palu khususnya saat terjadinya tsunami pasca gempa menunjukkan bahwa sistem deteksi dini masyarakat masih sangat perlu diperhatikan untuk ditingkatkan," lanjut Suprayoga.

    Suprayoga yang juga Wakil Ketua I Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, ditambah dengan belum adanya tsunami early warning system di wilayah yang dikategorikan sangat rawan ancaman bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi itu. Terutama dengan adanya empat patahan di Pulau Sulawesi, patahan Palu Koro memiliki tingkat pergeseran paling aktif dan sangat berpotensi terjadinya gempa bumi yang diikuti tsunami.

    Keterbatasan alat pendeteksi dini gempa bumi dan tsunami pada wilayah yang telah diidentifikasi sebagai patahan aktif seperti Palu Koro menunjukkan beberapa hal. Yakni, bahwa masih diperlukan penentuan skala prioritas pemasangan peralatan deteksi dini untuk bencana alam yang paling sering mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, kerusakan fisik dan kerugian ekonomi yang massif itu.

    Baca juga: Jokowi: Raja Salman Tawarkan Bantuan untuk Korban Tsunami Palu

    "Belum lagi terbatasnya pemasangan sistem deteksi dini di wilayah pantai, seperti buoy yang baru terpasang di wilayah pantai timur Sumatera dan pantai Selatan Jawa," tambah dia. "Namun, hal itu belum menjangkau wilayah rawan bencana gempa dan tsunami lainnya seperti di wilayah pantai timur Sulawesi."

    Hal itu juga berimplikasi pada kesiapsiagaan tehadap kejadian bencana gempa bumi dan tsunami, seperti pemasangan tower sirine ancaman tsunami yang harusnya dipasang di wilayah pantai yang rawan. Sehingga dapat mengurangi jatuhnya korban jiwa yang diakibatkan gelombang tsunami seperti yang terjadi di Kota Palu.

    Baca juga: Kenapa Gempa, Tsunami, Likuifaksi Bisa Terjadi Bersamaan di Palu

    Simak kabar terbaru seputar tsunami Palu hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.