Senin, 22 Oktober 2018

Makin Tinggi, Begini Sejarah Kemunculan Gunung Anak Krakatau

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava, yang terlihat dari perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis, 19 Juli 2018. Data Vulcano Activity Report (VAR) mencatat Gunung Anak Krakatau telah meletus 272 kali. ANTARA FOTO/Elshinta

    Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava, yang terlihat dari perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis, 19 Juli 2018. Data Vulcano Activity Report (VAR) mencatat Gunung Anak Krakatau telah meletus 272 kali. ANTARA FOTO/Elshinta

    TEMPO.CO, Jakarta - Letusan Gunung Anak Krakatau telah memasuki tahap akhir erupsi tahun ini. Gunung Anak Krakatau mulai tumbuh pada 20 Januari 1930 hasil dari letusan Gunung Krakatau.

    Baca juga: Kenapa Letusan Gunung Anak Krakatau Selalu Berubah Warna?

    Menurut laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) komplek Krakatau terdiri dari empat pulau, Rakata, Sertung, Panjang dan Anak Krakatau. Ketiga pulau pertama adalah sisa pembentukan kaldera.

    Sementara Anak Krakatau muncul akibat erupsi kompilasi pada 11 Juni 1927 dengan komposisi magma basa muncul di pusat komplek Krakatau. Lahir akibat letusan-letusan Anak Krakatau tumbuh semakin besar dan tinggi, bagian kerucutnya mencapai tinggi lebih kurang 300 mneter dari muka laut.

    Baca juga: Menang di Polling Vulcano Cup, Ini Sejarah Gunung Krakatau

    Catatan sejarah kegiatan vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak lahir pada 1930 hingga 2000, telah mengalami erupsi lebih dari 100 kali, baik secara eksplosif maupun efusif. Dari beberapa letusan tersebut, umumnya titik letusan selalu berpindah-pindah di sekitar tubuh kerucutnya.

    Waktu istirahat tersedia antara 1 hingga 8 tahun dan dialami 4 tahun sekali adalah letusan abu dan leleran lava. Aktivitas terakhir Anak Krakatau, yaitu letusan abu dan leleran lava berlangsung mulai 8 November 1992 hingga Juni 2000.

    Jumlah letusannya per hari oleh karena ditempatkan di Pos PGA Pasauran, sedangkan jumlah bahan vulkanik yang dikeluarkan selama letusan tersebut lebih kurang 13 juta meter kubik, terdiri dari lava dan material lepas berkomposisi andesit basaltis.

    Baca juga: Gunung Anak Krakatau Tumbuh 4 Meter dalam Setahun

    Pada tahun 2000-an Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan kegempaan terutama pada September 2005. Sementara Oktober 2007 aktivitas kegempaannya kembali meningkat dan terjadi letusan abu setinggi 200 meter. Hasil pengamatan visual pada 25 Oktober 2007, ada lubang letusan baru di dinding selatan Anak Krakatau.

    Hasil pengamatan langsung Anak Krakatau pada 15-16 April 2008 menunjukkan bahwa terjadi kembali letusan abu yang merupakan bahan lontaran yang biasa, berlangsung setiap selang waktu 5 hingga 15 menit dengan ketinggian berkisar 100 - 500 meter. Dan mulai 10 Oktober 2010, terjadi letusan abu yang lontaran bahan yang digunakan dengan ketinggian secepatnya 100.100 meter dan berlangsung setiap hari.

    Saat ini menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur, PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM, Kristianto mengatakan aliran lava pijar yang dihasilkan dari letusan Gunung Anak Krakatau telah mencapai pantai. "Ini masih lanjutan dari aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau," kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Kristianto mengatakan aliran lava pijar dari kawah Anak Krakatau ditemukan pertama kali muncul di awal September 2018 saat tim PVMBG memeriksa gunung itu. "Awal bulan September tim ke lapangan, sudah melihat ada aliran lava," kata dia.

    Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Menyebabkan Kolom Abu 500 Meter

    Menurut Kristianto, saat itu aliran lava masih belum mencapai pantai. Aliran lava tersebut didapati meleler di sisi selatan Anak Krakatau mencapai pantai hari Senin, 1 Oktober 2018. "Aliran lava ini mengalir ke arah selatan dari puncak. Kemudian mengalir ternyata sampai pantai. Ketika lava tersebut kontak dengan air laut, terjadi letupan-letupan di pantai. Panas bertemu dengan air, itu asapnya ngebul putih di pantai itu," lanjut dia.

    Simak kabar terbaru seputar Gunung Anak Krakatau hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.