Senin, 10 Desember 2018

Rusia dan Israel Adu Senjata Tempur, Ini Teknologi S-300 Jet F-35

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad mengatakan pada Selasa lalu bahwa negara itu menyambut baik pengerahan sistem pertahanan udara S-300 Rusia di Suriah. CCTV

    Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad mengatakan pada Selasa lalu bahwa negara itu menyambut baik pengerahan sistem pertahanan udara S-300 Rusia di Suriah. CCTV

    TEMPO.CO, Jakarta - Rusia dan Israel saling adu kekuatan dengan mengklaim masing-masing senjata yang dimilikinya paling kuat, yakni S-300 dan jet F-35. Rusia dikabarkan mengirimkan senjata anti-serangan udara S-300 ke Suriah, sementara Menteri Israel Tzachi Hanegbi mengatakan bahwa S-300 tidak mampu mendeteksi pergerakan pesawat jet tempur F-3.

    Kedua senjata tempur itu merupakan senjata yang berbeda, S-300 merupakan senjata yang dugunakan untuk anti serangan udara. Sedangkan jet tempur F-3 merupakan senjata udara. Tempo berusaha merangkum perbedaan dari kedua senjata tersebut, berikut bedanya:

    Baca juga: Rusia Kirim S-300 ke Suriah, Menteri Israel Jagokan Jet F-35

    1. Senjata anti-serangan udara S-300 Rusia

    Sistem Pertahanan Anti-udara Rusia S-300 [Donat Sorokin/TASS]

    Rusia mengirim sistem anti-serangan udara S-300 pasca insiden yang menewaskan 15 orang karena pemblokiran rudal dari militer Suriah. Mereka berusaha menghalau serangan jet tempur F-16 Israel di Latakia pada bulan lalu, seperti dilansir Haaretz dan Sputnik News pada Kamis, 4 Oktober 2018.

    Keluarga sistem pertahanan S-300 dikembangkan sejak era Uni Soviet pada 1970-an. Tujuan utamanya adalah mempertahankan dan mengendalikan wilayah udara terhadap pesawat pengebom yang datang, jet tempur, dan target udara lainnya.

    Mesin perang ini memiliki jarak tembak hingga 250 kilometer. Berdasarkan kemampuan jarak, ini berarti bahwa varian Suriah akan mendapatkan S-300VM yang lebih maju daripada S-300PMU2, yang Rusia rencanakan sebelumnya untuk dikirim ke pasukan Suriah.

    Dikombinasikan dengan kemampuan mematikan rudal, S-300 bisa menekan superioritas udara Israel selama serangan terhadap target di Suriah. Operasi S-300 sepenuhnya otomatis serta mampu melacak dan menghancurkan beberapa target udara secara bersamaan. Juga dapat dengan mudah dan cepat mengubah posisi tembak untuk menghindari sasaran dalam serangan balasan musuh.

    Agar tidak terlihat musuh, peluncur dan kendaraan tambahan S-300 menggunakan berbagai kamuflase, seperti jaring kamuflase serbaguna. Peluncur juga biasanya ditempatkan di parit. Meskipun terlihat seperti solusi berteknologi rendah, ia melindungi sistem dari proyektil dan ledakan di dekatnya. Selain itu, baterai S-300 mungkin dilengkapi dengan perangkat khusus, yang mendeteksi rudal anti-radar.

    Baca juga: Jet termahal di dunia F-35 alami kecelakaan pertama dalam sejarahnya

    2. Jet F-35 Israel

    Pengiriman pesawat tempur F-35B milik Angkatan Udara Inggris, yang dikirim dari Marine Corps Air Station Beaufort di Amerika Serikat menuju pangkalan baru RAF Marham, Inggris, 6 Juni 2018. Inggris mendatangkan jet F-35B seharga Rp 2,2 triliun. Sgt Nik Howe/MoD Handout via REUTERS

    Israel mengklaim menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan pesawat tempur siluman F-35 buatan Amerika Serikat dalam pertempuran. Klaim itu disampaikan kepala angkatan udara Israel, Mayor Jenderal Amikam Norkin. "Kami menerbangkan F-35 di Timur Tengah dan telah menyerang dua kali pada dua front yang berbeda," kata Norkin, seperti dilansir Reuters pada Mei 2018.

    Salah satu kelebihan utama F-35 adalah kemampuan pengoperasian serangan dari darat dan laut. F-35 dirancang untuk lepas landas dari jalan lompat ski yang tingginya enam meter dan mampu mendarat vertikal.

    Spesifikasi F-35 ini memiliki kecepatan 1,119 mph atau setara dengan 1,809 km/jam. Jet itu dapat membawa muatan setara dengan 6.803 kg dan memiliki jangkauan penerbangan sejauh 900 mil atau setara dengan 1.448,4 km. F-35 memiliki kesamaan pengaturan suhu seperti pesawat luar angkasa

    Teknologi yang dimilikinya pun sangat canggih. F-35 dilengkapi teknologi elektronik militer terbaru termasuk radar peringatan dan arah penargetan yang akurat, serta perlindungan diri untuk mendeteksi dan mengatasi ancaman dari darat dan udara.

    Selain itu, komputer di kokpit didukung 8,6 juta baris kode yang dapat memberikan informasi kepada pilot dalam dua layar sentuh, dan menggunakan pengenal suara juga. Bahkan, F-35 didukung oleh lebih banyak baris kode daripada yang dibutuhkan untuk meluncurkan Space Shuttle.

    Helm berteknologi tinggi yang dikenakan oleh pilot F-35 juga dilengkapi dengan layar cekung yang menampilkan informasi penting seperti ketinggian dan navigasi. Serta gambar dari enam kamera infra merah yang tertanam di kulit pesawat sehingga memungkinkan pilot untuk melihat melalui badan pesawat.

    Saat ini ada lebih dari 200 jet yang sudah beroperasi dengan total jam terbang sebanyak 110.000 jam. Angkatan Udara Amerika-lah yang memiliki pesawat F-35 paling banyak dari semua negara yang terlibat dalam pembuatannya.

    Beberapa negara sudah membeli jet tempur F-35 di antaranya Australia membeli 100 unit dengan total harga Rp 227 triliun. Israel pada tahun 2017 membeli 100 unit dan setahun kemudian membeli lagi F-35 sebanyak 15 unit. Turki memesan 116 unit F-35 dan baru disetujui pembeliannya sebanyak 2 unit.

    Baca juga: Rusia Pasok S-300 ke Suriah, Seberapa Canggih Rudal S-300?

    Simak artikel menarik lainnya seputar teknologi senjata S-300 Rusia dan jet tempur F-35 hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.