Senin, 22 Oktober 2018

2 Cara Jepang Turunkan Korban Gempa dan Tsunami

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara dan tim penyelamat mengumpulkan korban tewas akibat gempa Palu di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 6 Oktober 2018. Sebanyak 82 orang korban meninggal dunia akibat tanah yang amblas di wilayah itu. REUTERS/Darren Whiteside

    Tentara dan tim penyelamat mengumpulkan korban tewas akibat gempa Palu di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 6 Oktober 2018. Sebanyak 82 orang korban meninggal dunia akibat tanah yang amblas di wilayah itu. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Palu - Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang tiga kabupaten dan ibu kota Sulawesi Tengah, serta disusul tsunami setinggi 3-4 meter yang menghantam Kota Palu dan Kabupaten Donggala pada Jumat, 28 September 2018, pukul 18.02 WITA.

    Baca: Mau Bikin Bangunan Tahan Gempa? Simak Aturan Teknisnya
    Baca: Kenapa Gempa, Tsunami, Likuifaksi Bisa Terjadi Bersamaan di Palu?

    Wilayah Palu dan sekitarnya juga pernah dilanda gempa beberapa kali pada tahun 1927, 1938 dan 1968. Belum lagi gempa-gempa cukup kecil lainnya yang cukup sering terjadi. Kondisi ini dinilai mirip dengan kondisi di  negara Jepang.

    Perwakilan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) Goto Shinya yang ditemui di Bandara Mutiara SIS Al Jufri, Palu, Sabtu, menyebutkan antara Indonesia dengan Jepang memiliki lingkungan serta memiliki potensi gempa yang sama.

    "Kita (Jepang dan Indonesia) memiliki lingkungan yang sama dan banyak mengalami gempa bumi, tensinya juga sangat sering," kata Goto.

    Akan tetapi, jika melihat dari jumlah korban, semakin zaman berganti, negara Jepang perlahan bisa mengurangi jumlah korban tersebut secara signifikan.

    Tercatat, ada sekitar lima gempa besar dengan korban meninggal cukup besar yang pernah mengguncang Jepang, yakni pada November 684 (100-1.000 jiwa), 1 September 1923 (142.800 jiwa), 17 Januari 1995 (6.434 jiwa), 11 Maret 2011 (15.894 jiwa) dan 22 November 2016 (15 luka).

    Sementara untuk gempa yang disusul tsunami, Jepang tercatat pernah enam kali mengalami tsunami dengan jumlah korban meninggal cukup besar yakni pada 20 September 1498 (sekitar 31.000 jiwa), 18 Januari 1586 (8.000 jiwa), 28 Oktober 1707 (30.000 jiwa), 24 April 1771 (13.486 jiwa), 15 Juni 1896 (27.122 jiwa) dan Maret 2011 (sekitar 2.000 jiwa).

    "Ya kami cukup bisa menurunkan jumlah korban, karena kami telah siap menghadapinya," ujar Goto.

    Faktor pertama, ucap Goto, adalah kondisi bangunan di Jepang yang memiliki struktur cukup kuat untuk menahan gempa bumi. "Akan tetapi yang utama dan terpenting, adalah komponen halusnya, yakni persiapan manusianya," tutur Goto.

    Di Jepang, kata Goto, karena seringnya diguncang gempa, mereka mempersiapkan masyarakat Jepang agar tanggap terhadap bencana alam yang terus mengintai mereka yang dimulai sejak tingkat taman kanak-kanak dengan sistem pendidikan, dengan memasukkan unsur-unsur pengetahuan dalam menghadapi bencana.

    Ada dua hal memang yang harus dipersiapkan dalam mengantisipasi korban dari bencana besar yakni pengaturan infrastruktur secara cermat dan persiapan pada manusianya seperti memberi pengetahuan dan latihan.

    "Di Jepang kami lakukan ini, karena kami banyak ditimpa oleh bencana gempa dan tsunami," tutur Goto menambahkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.