Senin, 22 Oktober 2018

Bahaya Longsor Setelah Gempa Donggala Intai Sigi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bahaya longsor  mengancam Desa Poi dan Desa Pulu, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pasca Gempa Donggala. Foto.Dok. Adrin Tohari/LIPI

    Bahaya longsor mengancam Desa Poi dan Desa Pulu, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pasca Gempa Donggala. Foto.Dok. Adrin Tohari/LIPI

    TEMPO.CO, Bandung - Peneliti dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung Adrin Tohari melihat ancaman longsor di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah setelah Gempa Donggala.

    Adrin adalah anggota tim Pusat Gempa Nasional (Pusgen) yang tengah meneliti bencana likuifaksi di Kabupaten Sigi.

    Baca: Daftar 15 Sumber Potensi Gempa Besar di Indonesia
    Baca: Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Bitung
    Baca: Kontroversi Sesar Pemicu Gempa di Jakarta, Ini Kata Ahli ITB

    "Materialnya sudah menggantung di bawah mahkota longsor, belum meluncur," katanya saat dihubungi Sabtu, 13 Oktober 2018.

    Menurut Adrin, kondisi itu mengancam dua desa. "Lokasi terancam Desa Poi dan Desa Pulu Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi," katanya. Kondisi itu, menurutnya, telah dilaporkan ke staf Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Dari dua foto kiriman Adrin ke Tempo, terlihat gawir perbukitan yang berwarna putih. Material tanah telah berguguran mengisi gawir atau lereng itu secara menyebar.

    Adrin yang juga peneliti dan pakar longsor itu berharap masyarakat di kedua desa tersebut dievakuasi atau dipindahkan dulu. "Sudah mulai hujan lebat terutama malam hari," katanya.

    Gempa Donggala bermagnitudo 7,4 pada Jumat sore, 28 September 2018 tidak saja menghasilkan guncangan kuat, tapi juga tsunami, dan likuifaksi seketika. Pasca gempa, ternyata masih ada pula ancaman di daerah lereng yaitu longsor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.