Ahli LIPI Sarankan Evakuasi dari Tanah Bergerak di Tangerang

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. FOTO Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang

    Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. FOTO Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang

    TEMPO.CO, Bandung - Ahli dan peneliti longsor dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Adrin Tohari, mengatakan jenis tanah bergerak di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, tergolong longsoran jenis rayapan.

    Baca: Tanah Bergerak di Tangerang, PVMBG: Tidak Akan Jadi Longsor Besar
    Baca: Ternyata Inilah Penyebab Tanah Bergerak di Tangerang

    Dengan pertimbangan meningkatnya potensi bahaya saat musim hujan, ia menyarankan warga untuk sementara mencari hunian yang lebih aman.

    "Menurut saya masyarakat perlu direlokasi dulu, kita belum tahu seberapa besar retakan yang akan terjadi karena nanti kan sudah musim hujan," kata Adrin, Rabu, 17 Oktober 2018.

    Tanah bergerak di RT 04/RW 01, Kampung Kadu Sirung, Desa Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, telah merusak jalan dan rumah penduduk.

    Pada Selasa siang, 16 Oktober 2018, retakan besar dan panjang terjadi di jalan lingkungan desa itu. Retakan sepanjang 50 meter itu lebar dan kedalamannya bervariasi dari 0,5 hingga 1 meter.

    Laporan adanya rumah dengan tembok terdampak gerakan tanah itu, kata Adrin, bisa membahayakan penghuni. Tipe longsoran pergerakan lambat kebanyakan menimbulkan kerusakan pada bangunan. "Masyarakat yang tinggal di situ bisa menjadi korban kalau tiba-tiba bangunan retak lalu rubuh," ujarnya.

    Menurut Adrin, retakan di tanah itu merambat ke dasar bangunan rumah dan kemudian ketika terjadi pergerakan lebih lanjut, maka retakan di dasar bangunan akan merambat ke bagian struktur bangunan yang lemah, terutama dinding.

    Upaya lain jika masyarakat belum bisa dievakuasi, kata Adrin, perlu ada pemantauan pada daerah tertentu. Sementara pemerintah daerah dinilai perlu menerapkan tanggap darurat. "Sambil evaluasi tingkat ancaman dan kemungkinan masyarakat bisa kembali," ujarnya.

    Menurutnya, gejala retakan tanah itu bukan ciri likuifaksi, melainkan pergerakan tanah yang prosesnya berjalan lambat atau lazim disebut rayapan. Kondisi alam dari gejalan ini tidak memerlukan lereng yang curam. Kemiringan landai antara tanah dengan batuan bidang gelincirnya sudah cukup untuk menggerakkan tanah.

    Simak laporan lainnya tentang tanah bergerak di Tangerang di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.