Populasi eSport Asia Tumbuh Lebih Cepat Dibandingkan Global

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Vietnam bertanding dalam <i>esports</i> cabang permainan Arena of Valor (AOV) Asian Games 2018 di Britama Arena, Jakarta, Minggu, 26 Agustus 2018. <i>Esport</i> menjadi cabang olahraga eksibisi Asian Games 2018. ANTARA/INASGOC/Fulli Syafi

    Tim Vietnam bertanding dalam esports cabang permainan Arena of Valor (AOV) Asian Games 2018 di Britama Arena, Jakarta, Minggu, 26 Agustus 2018. Esport menjadi cabang olahraga eksibisi Asian Games 2018. ANTARA/INASGOC/Fulli Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Acer Consumers Lead Intel Asia Pacific Japan Yohan Wijaya menyebutkan, berdasarkan riset, populasi eSport di Asia lebih berkembang jika dibandingkan eSport secara global. Hal tersebut disampaikam Yohan di acara Kick Off Asia Pacific Predator League 2019 yang digelar Acer.

    Baca: Atlet eSport Indonesia Bisa Go Internasional, Syaratnya...
    Baca: Berkembang Pesat di Indonesia, eSport Masih Harus Beradaptasi
    Baca: eSport dan Peran Game Streamer Tak Bisa Dilepaskan

    "Populasi gamers, tidak termasuk Cina itu cukup besar jumlahnya, ada 279 juta orang di Asia Pasifik, lebih dari total penduduk Indonesia. Dari segi pertumbuhan kita melihat lebih cepat dari pertumbuhan rata-rata global, Asia itu 7 persen dari tahun ke tahun, sementara global hanya 5 persen dari tahun ke tahun," kata Yohan, di Kedasi, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Oktober 2018.

    Berdasarkan data Statista 2018, pendapatan global dari pasar game sebesar US$ 137.9 miliar atau tumbuh 13.3 persen dari tahun sebelumnya. Sementara wilayah Asia Pasifik masih  merupakan pasar game terbesar dengan pendapatan mencapai US$ 71,4 miliar pada 2018, bertumbuh 16,8 persen secara.

    Dengan potensi pasar seperti Indonesia dan India, kata Yohan, Asia Pasifik adalah rumah bagi pasar game yang tumbuh paling cepat secara global. Dengan pertumbuhan signifikan ini, Acer melihat potensi besar untuk mengakselerasi kemajuan industri melalui turnamen sebagai platform untuk mengasah bakat para gamers, yang didukung oleh perangkat game terbaik dari Predator.

    "Selain itu, hal yang lebih menarik adalah intensitas masyarakat Asia lebih rajin bermain game dengan waktu rata-rata 7 jam per hari dibandingkan global hanya 5 jam per hari. "Ini cukup menjadi dasar bagi kita," lanjut Yohan.

    Acer kembali menggelar turnamen game, Asia Pacific Predator League 2019 dengan mempertandingkan dua game, yakni Dota 2 dan Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG). Gelaran tersebut memperebutkan total hadiah US$ 400 ribu atau setara dengan Rp 6 miliar, dan Indonesia sebagai host dari acara tersebut dengan grand final yang akan digelar di Bangkok, Thailand.

    Menurut Ketua Asosiasi eSport Indonesia (IeSPA) Eddy Lim, perkembangan eSport tanah air sama seperti negara lain. Menurutnya, pasar game di Indonesia lebih dari 40 juta gamers dengan pendapatan mencapai Rp 11,9 triliun, peringkat 17 sedunia.

    "Di Indonesia perkembangannya cukup seksi, yang berkembang pesat hingga tahun ini. Pemerintah mendukung perkembangan eSport dan rencananya kami akan memperluas arena untuk bisa menghadirkan eSport di pelosok negeri," tambah Eddy. "Melalui acara ini sangat bagus, dan kemarin sudah masuk dalam Asian Games meskipun hanya sebagai eksebisi dan eSport resmi menjadi olah raga."

    Didorong oleh peningkatan adopsi smartphone, infrastruktur internet yang lebih baik, dan permainan berbasis selular yang kompetitif dan imersif, pasar tersebut telah mendorong kawasan untuk menangkap 52 persen dari pasar global. Amerika Utara adalah wilayah terbesar kedua dengan US$ 32,7 miliar dalam pendapatan game, mengungguli Eropa Barat di posisi ketiga.

    Simak artikel lainnya tentang eSport di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.