Kamis, 15 November 2018

Cerita Serangan Siber Pertama di Dunia, 30 Tahun Lalu

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruang laboratorium forensic digital di Microsoft Digital Cybercrime Unit. Sistem di sini siaga 24 jam untuk memonitor serangan siber di seluruh dunia (Kredit Foto: Microsoft)

    Ruang laboratorium forensic digital di Microsoft Digital Cybercrime Unit. Sistem di sini siaga 24 jam untuk memonitor serangan siber di seluruh dunia (Kredit Foto: Microsoft)

    TEMPO.CO, Jakarta - Serangan siber pertama di dunia ternyata berawal dari rasa ingin tahu seorang mahasiswa pascasarjana Cornell University, New York, Amerika, Robert Tappan Morris tentang internet pada November 1988. Dia membuat program yang melakukan perjalanan dari komputer ke komputer dan kemudian menjadi salah satu jenis serangan siber.

    Baca: Grant Thornton: Indonesia Bisa Jadi Target Utama Serangan Siber
    Baca: Perusahaan di Indonesia Banyak dapat Ancaman Serangan Siber
    Baca: Indonesia akan Sering Terkena Serangan Siber Sepanjang 2018-2025

    Seperti dikutip laman livescience.com, Ahad, 4 November 2018, Morris ingin mengetahui seberapa banyak komputer yang dapat terhubung dengan internet. Melalui perjalanannya dari komputer ke komputer, programnya meminta setiap mesin mengirim sinyal kembali ke server kontrol, dan akan terus dihitung.

    Namun, program yang dibuat oleh putra kriptografer terkenal Robert Morris Sr itu, bekerja cukup baik, bahkan perjalanannya terlalu cepat dan bisa menimbulkan masalah, seperti penyumbatan karena kapasitas komputer tidak bisa menampung program yang berjalan begitu cepat dan besar.

    Ketika Morris menyadari apa yang terjadi, ternyata pesan-pesannya telah memperingatkan administrator sistem bahwa program-program itu tidak bisa berjalan.

    Program milik Morris menjadi yang pertama dari jenis serangan siber yang disebut 'distributed denial of service' atau DDoS, di mana sejumlah besar perangkat yang terhubung internet, termasuk komputer, webcam dan gadget pintar lainnya, diberitahu untuk mengirimkan banyak trafik ke satu alamat tertentu.

    Hal itu membebani dengan banyaknya aktivitas, sehingga sistem dimatikan atau koneksi jaringannya benar-benar diblokir. Menurut Ketua Program Cybersecurity Indiana University
    Scott Shackelford, jenis-jenis serangan tersebut semakin sering terjadi hari ini.

    "Dalam banyak hal, program Morris, yang dikenal sejarah sebagai 'worm Morris', menciptakan panggung untuk kerentanan yang krusial, dan berpotensi menghancurkan, seperti yang saya dan orang lain sebut sebagai Internet of Everything yang akan datang," ujar Shackelford, seperti dilansir laman theconversation.com, 1 November 2018.

    Simak artikel menarik lainnya tentang serangan siber hanya di kanal Tekno Tempo.co

    LIVESCIENCE.COM | THECONVERSATION.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon 'Hidup' Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.