Kamis, 15 November 2018

Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Satelit Pawang Hujan Cina

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagian dari satelit cuaca Cina yang akan beroperasi pada 2022. Satelit ini akan bisa memindahkan hujan. (qz.com)

    Bagian dari satelit cuaca Cina yang akan beroperasi pada 2022. Satelit ini akan bisa memindahkan hujan. (qz.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 tekno berita hari ini terdiri dari topik satelit pawang hujan Cina, kisah pencarian lukisan gua Kalimantan, dan hujan meteor Taurid. Cina sebentar lagi akan punya satelit pawang hujan. Ya, satelit ini benar-benar bisa memindahkan awan hujan. Tim ilmuwan Negeri Tiongkok sedang menyiapkan satelit yang mampu mengubah cuaca.

    Baca juga: Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Diskon Huawei di Harbolnas 2018

    Peneliti yang terlibat dalam penemuan lukisan gua Kalimantan, Adhi Agus Oktaviana, menceritakan bagaimana awal mula dirinya dan tim menemukan gambar cadas itu. Terungkapnya lukisan gua tertua di dunia itu, kata dia, berawal dari penelitian yang sudah dilakukan.

    Selain itu, juga ada kabar soal hujan meteor Taurid yang akan menghujani malam-malam hingga 20 November 2018.

    Baca juga: Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Lukisan Gua Kalimantan Terungkap

    Berikut tiga berita terpopuler hari ini:

    1. Begini Cara Kerja Satelit Pawang Hujan Milik Cina

    Bagian dari satelit cuaca Cina yang akan beroperasi pada 2022. Satelit ini akan bisa memindahkan hujan. (qz.com)

    Cina sebentar lagi akan punya satelit pawang hujan. Ya, satelit ini benar-benar bisa memindahkan awan hujan. Tim ilmuwan Negeri Tiongkok sedang menyiapkan satelit yang mampu mengubah cuaca.

    Seperti dilansir laman Mirror.co.uk, 9 November 2018, proyek ambisius yang diharapkan para pejabat akan beroperasi dalam waktu empat tahun mendatang, akan membuat uap

    air bergeser dari wilayah barat yang basah, ke arah timur yang lebih kering. Sebanyak enam satelit akan menciptakan koridor atmosfer yang membuat awan dapat bergerak bersama. Proyek ini diberi nama "Tianhe", yang berarti sungai langit.

    Sebuah laporan Yicai Global mengatakan teknologi satelit yang dikembangkan Shanghai Academy of Spaceflight Technology ini diharapkan akan beroperasi pada 2022. Dua satelit pertama dijadwalkan berada di luar angkasa dua tahun sebelumnya.

    Baca selengkapnya: Begini Cara Kerja Satelit Pawang Hujan Milik Cina

    2. Kisah Arkeolog Peneliti Lukisan Gua Kalimantan 40 Ribu Tahun

    Hasil proses render lukisan gua berumur 40 ribu tahun yang ada di Sangkulirang-Mangkalihat. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

    Peneliti yang terlibat dalam penemuan lukisan gua Kalimantan, Adhi Agus Oktaviana, menceritakan bagaimana awal mula dirinya dan tim menemukan gambar cadas itu.

    Terungkapnya lukisan gua tertua di dunia itu, kata dia, berawal dari penelitian yang sudah dilakukan. "Seperti kita tahu sebelumnya 'kan gambar cadas di Sangkulirang-Mangkulitan itu awalnya hasil penelitian kerja sama antara peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan peneliti Prancis sekitar tahun 1990-an. Terus ekspose di Indonesia pas zaman saya kuliah tahun 2005 yang dipresentasikan di Museum Nasional," ujar pria yang disapa Aa yang juga peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Selatan, Kamis, 8 November 2018.

    Gambar cadas tersebut ditemukan di gua-gua yang berada di atas pegunungan terpencil di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Di gua-gua di daerah terpencil itu menyimpan gambar-gambar purba, termasuk ribuan penggambaran tangan manusia (stensil), hewan, simbol abstrak dan motif yang saling berhubungan.

    Baca selengkapnya: Kisah Arkeolog Peneliti Lukisan Gua Kalimantan 40 Ribu Tahun

    3. Lihat Hujan Meteor Taurid, Alternatif Asyik Malam Mingguan

    Sebuah meteor melintasi langit selama puncak hujan meteor Perseid di Taman Nasional Mavrovo di Makedonia, 12 Agustus 2018. NASA menyebutkan puncak hujan meteor ini berlangsung pada 11, 12, dan 13 Agustus 2018. REUTERS/OgnenTeofilovski

    Bagi yang masih bingung mau malam mingguan ke mana, menyaksikan hujan meteor Taurid bisa jadi alternatif asyik. Fenomena langit itu muncul sejak 10 September hingga 20 November mendatang.

    Penggiat astronomi di Bandung, Avivah Yamani mengatakan, penampakan bola-bola api itu seperti meteor pada umumnya. "Tapi lebih terang dan melesat cepat di angkasa," kata Avivah yang dihubungi Jumat, 9 November 2018.

    Hujan meteor Taurid berasal dari sisa debu Komet 2P Encke dan tidak pernah menghasilkan lebih dari 5 meteor per jam. Menariknya, hujan meteor taurid ini kaya dengan bola api.

    Baca selengkapnya: Lihat Hujan Meteor Taurid, Alternatif Asyik Malam Mingguan

    Selain tiga topik tersebut, Anda bisa membaca berita hari ini seputar sains dan teknologi lainnya hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.