Kamis, 15 November 2018

LAPAN: Cuaca Bukan Penyebab Jatuhnya Lion Air JT 610

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim KNKT mengambil gambar bagian turbin bagian pesawat Lion Air JT 610 di posko Tanjung Priok, Jakarta, Ahad, 4 November 2018. Pesawat Lion Air mengangkut 189 penumpang dan awaknya. TEMPO/Amston Probel

    Tim KNKT mengambil gambar bagian turbin bagian pesawat Lion Air JT 610 di posko Tanjung Priok, Jakarta, Ahad, 4 November 2018. Pesawat Lion Air mengangkut 189 penumpang dan awaknya. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Bandung - Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), cuaca bukanlah penyebab jatuhnya Lion Air JT 610. Tim peneliti kebencanaan pesawat dari Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN memeriksa tiga faktor kemungkinan.

    Baca juga: Lion Air Jatuh, Ini Hasil Ramp Check terhadap 117 Pesawat

    Anggota tim peneliti Erma Yulihastin mengatakan, pertanyaan riset terkait dengan kondisi atmosfer dengan insiden itu. Pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boeing 737 MAX 8 penerbangan Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang itu berangkat Senin, 29 Oktober 2018 pukul 06.10 WIB dari Bandara Soekarno-hatta. Pesawat yang mengangkut 189 orang penumpang itu jatuh beberapa menit kemudian di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

    Tim melakukan pengolahan data dari beberapa peralatan, pengamatan, termasuk konfirmasi data model atmosfer dari Sadewa (Satellite-bassed Disaster Early Warning System), dan melakukan eksperimen khusus dengan resolusi 1 kilometer. Tujuannya agar tim bisa melihat lebih detil kondisi di sekitar lokasi. “Kami berusaha mendeteksi tiga fenomena yang biasanya menggangu pesawat sehingga menimbulkan kecelakaan,” katanya kepada Tempo, Jumat, 9 November 2018.

    Baca juga: Sistem Rusak, Lion Air JT 610 Dipandu karena 'Terbang Buta'

    Fenomena pertama terkait dengan downburst, atau hempasan angin ke bawah yang menyebabkan penyimpangan angin yang sangat kuat. “Seolah-olah pesawat itu dihempaskan oleh angin dari arah atasnya. Dari kajian tim, potensi downburst itu kecil karena tidak ada angin yang terlalu kuat di lapisan lokasi pesawat berada. Angin saat itu pada ketinggian 1,5 hingga 2 kilometer cenderung tenang dan kecepatannya kecil. “Sekitar 2 meter per detik saat kejadian sekitar jam 6 pagi.”

    Kemungkinan kedua yaitu fenomena clear air turbulence. “Turbulensi parah yang dapat terjadi pada daerah yang tanpa awan,” kata Erma. Secara visibilitas tidak ada awan juga tidak terdeteksi awan oleh radar pesawat. Tapi ada turbulensi yang sangat parah sifatnya yang sangat berbahaya buat penerbangan.

    Tim berusaha melihat potensi itu dengan menghitung indeks. Perolehan nillai perhitungannya berdasarkan model adalah 20 atau sangat tinggi. “Sementara kalau terjadi clear air turbulence (CAT) itu harus kurang dari 0,25. Dengan kata lain, potensi adanya CAT tidak ada,” ujarnya.

    Baca juga: Rekam Jejak Musibah Lion Air Sebelum Insiden JT 610

    Kemudian yang ketiga tim ingin melihat terjadinya microburst yang dicirikan oleh pertumbuhan awan kumulonimbus yang sangat cepat. Terjadinya pertumbuhan awan mengindikasikan kondisi atmosfer yang tidak stabil. “Data kami menyimpulkan bahwa untuk fenomena petumbuhan awan itu tidak ada.”

    Pertumbuhan awan diketahui pada pukul 02.00 – 04.00 WIB. Tim menggunakan data resolusi yang sangat tinggi dari satelit Himawari yang khusus memantau awan. “Jam lima peluruhan awan, jam enam relatif bersih dari awan,” katanya.

    Fenomena microburst hampir tidak terjadi. Sisi stabilitas atmosfer juga dicek dengan beberapa parameter, hasilnya tidak menunjukkan adanya gerakan pengangkatan udara ke atas yang artinya tidak ada pertumbuhan awan. “Kami juga deteksi kemungkinan cuaca buruk seperti badai guntur itu juga tidak ada,” ujar Erma.

    Baca juga: Temuan KNKT Setelah Berhasil Unduh Data FDR Lion Air JT 610

    Simak artikel menarik lainnya tentang Lion Air JT 610 dan kabar terbaru dari LAPAN hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon 'Hidup' Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.