Terungkap, Ada Mikroplastik di Ikan Teri: Simak Risetnya

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kandungan mikroplastik dari hasil penelitian atas tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)

    Kandungan mikroplastik dari hasil penelitian atas tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap kandungan mikroplastik di ikan teri atau Stolephorus sp. Jumlahnya mencapai 0,25-1,5 partikel per gram ikan. Persentasenya mencapai 58-89 persen.

    Baca juga: Konvensi Keanekaragaman Hayati Bahas Mikroplastik Laut Indonesia

    Tim ilmuwan LIPI melakukan kajian sampah di laut. Studi tersebut dilakukan di 18 pantai di Indonesia yang dijadikan area monitoring setiap bulan untuk pemantauan sampah terdampar dan 13 pesisir di Indonesia dijadikan area sampling mikroplastik di permukaan air. Serta delapan lokasi untuk mikroplastik di sedimen dan satu genus ikan (Stolephorus sp) dari 10 lokasi se-Indonesia.

    Walaupun jumlah mikroplastik di ikan teri relatif rendah, tapi hal ini perlu diwaspadai. "Mengingat dampak lain dari mikroplastik yang belum banyak diketahui," kata peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova, dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Desember 2018.

    Mikroplastik ditemukan pada seluruh lokasi kajian baik pada permukaan air, sedimen maupun pada tubuh ikan. Mikroplastik terbanyak ditemukan di permukaan air Sulawesi Selatan dan Teluk Jakarta. Di dua daerah tersebut terdapat 7,5 sampai 10 partikel per meter kubik. Pada sedimen ditemukan lebih dari 100 partikel per kilogran di Aceh, Sulawesi Selatan, dan Biak.

    Baca juga: Heboh Mikroplastik dalam Botol Air Kemasan, Apa Bahayanya?

    Selain itu, studi tersebut juga mengungkap jenis sampah yang ditemukan. Di antaranya, yakni kategori plastik dan karet, logam, kaca, kayu (olahan), kain, lainnya, serta bahan berbahaya. "Perhitungan kasarnya dengan asumsi sederhana diperkirakan 100 ribu hingga 400 ribu ton plastik per tahun yang dikonsumsi masyarakat Indonesia masuk ke laut," ujar Reza.

    Sampah dominan berasal dari plastik sekitar 36 hingga 38 persen di seluruh area kajian. Hasil tersebut menggambarkan bahwa penggunaan plastik masih sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya korelasi positif antara kepadatan penduduk dengan sampah plastik serta mikroplastik pada lingkungan. Selain itu, plastik dan mikroplastik yang ditemukan didominasi dari jenis plastik sekali pakai.

    "Dalam menganggulangi permasalahan sampah laut, khususnya sampah plastik dan mikroplastik diperlukan peran seluruh pihak, dari pemerintah, perguruan tinggi, pihak swasta dan industri serta LSM untuk mengurangi konsumsi plastik," kata Reza.

    Baca juga: LIPI: Sampah Plastik Melebihi Jumlah Ikan pada 2050

    Simak kabar terbaru seputar mikroplastik hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jadwal Imsakiyah dan Puasa Ramadhan 1442 H - 2021 M

    Ini jadwal puasa dan imsakiyah Ramadhan 1442 H yang jatuh pada 13 April hingga 12 Mei 2021, Idul Fitri 1 Syawal 1442 H jatuh pada 13 Mei 2021.