Alat Seismik PVMBG di Pulau Gunung Anak Krakatau Diduga Hancur

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, 22 Desember 2018. Instagram.com

    Erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, 22 Desember 2018. Instagram.com

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy K. Syahbana, mengatakan alat seismik yang disimpan PVMBG di Pulau Gunung Anak Krakatau mati pada Sabtu, 22 Desember 2018, pukul 21.03 WIB, atau menjelang terjangan tsunami Selat Sunda.

    Baca: PVMBG: Setelah Tsunami, Letusan Gunung Anak Krakatau Berubah

    “Diduga alat itu juga ikut hancur saat terjadi letusan, yang terjadi diperkirakan bersamaan dengan longsornya tubuh gunung api di sektor selatan,” ujar Devy, Senin, 24 Desember 2018.

    Sementara waktu tempuh gelombang tsunami yang dihasilkan juga pas dengan laporan kejadian tsunami di Pantai Anyer pukul 21.27 WIB. “Travel time (gelombang tsunami) sekitar itu,” kata dia.

    Menurut Devy, tim PVMBG di lapangan saat ini kesulitan mendeteksi dampak letusan Gunung Anak Krakatau yang telah berubah dari tipe strombolian menjadi tipe surtseyan.

    “Perubahan tipe letusan ini sedang dievaluasi teman-teman di lapangan, apakah berpotensi lagi terjadi longsoran misalkan. Kalau terjadi longsoran lagi, sulit mendeteksinya. Karena ini bukan seperti magma yang berkembang,” ujarnya.

    “Kalau misalnya magma, masih bisa kelihatan inflasinya. Ini tidak, sektor yang collaps ini tiba-tiba. Tubuh gunung api saat ini juga sudah tidak aman dipasang peralatan,” kata Devy.

    Simak artikel lainnya tentang Gunung Anak Krakatau di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.