Angin Puting Beliung Melanda Panguragan Cirebon, Ini Kata BMKG

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mulai membersihkan rumahnya pasca angin puting beliung melanda kawasan Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat Jumat 7 Desember 2018.Ahli Spasial Klimatologi Institut Pertanian Bogor (IPB) mengingatkan kepada Pemerintah Kota Bogor untuk segera melakukan antisipatif bahaya bencana di wilayah itu, termasuk puting beliung. TEMPO/Subekti.

    Warga mulai membersihkan rumahnya pasca angin puting beliung melanda kawasan Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat Jumat 7 Desember 2018.Ahli Spasial Klimatologi Institut Pertanian Bogor (IPB) mengingatkan kepada Pemerintah Kota Bogor untuk segera melakukan antisipatif bahaya bencana di wilayah itu, termasuk puting beliung. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Bandung - Angin puting beliung yang melanda Desa Panguragan, Cirebon, pada Ahad, 30 Desember 2018 sekitar pukul 15.30 WIB menyebabkan korban luka lima orang dan seorang meninggal dunia. Selain itu 165 rumah dan dua musala tercatat rusak, menurut laporan BPBD setempat.

    Baca: Waspada Puting Beliung, BNPB Imbau Warga Kenali Tanda-tandanya

    Penyebab angin puting beliung itu, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), karena adanya daerah tekanan rendah di selatan pulau Jawa dan belokan angin di wilayah Jawa Barat bagian timur.

    BMKG menyebut tiupan angin kencang tidak hanya terjadi dalam hitungan menit melainkan berdurasi lama hingga hampir sepanjang hari.

    "Penyebab yang paling dominan dari peningkatan angin di wilayah Indonesia adalah akibat peningkatan tekanan udara di wilayah Asia yang saat ini sedang terjadi musim dingin," kata prakirawan cuaca BMKG Bandung Maulana Mustaqim, Senin, 31 Desember 2018.

    Sementara itu, posisi matahari yang berada di selatan khatulistiwa karena gerak semu tahunan matahari juga berpengaruh. Posisinya menyebabkan wilayah Indonesia dan Samudera Hindia akan banyak terbentuk daerah tekanan rendah. "Seperti daerah tekanan rendah saat ini terbentuk di selatan Jawa Timur," ujarnya.

    Akibat dari perbedaan tekanan antara daratan Asia dan Indonesia yang cukup besar ini adalah pergerakan massa udara dari Asia menuju Indonesia yang cukup kuat selama beberapa hari terakhir.

    Kondisi kecepatan angin yang cukup tinggi ini diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2019, karena tekanan tinggi di Asia juga masih akan bertahan lama.

    BMKG meminta masyarakat mewaspadai angin kencang seperti menjauhi pohon, baliho, atau benda lain yang berpotensi roboh akibat angin kencang. Selain itu angin kencang ini berpengaruh pada peningkatan ketinggian gelombang laut hingga awal 2019. "Nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di lepas pantai agar waspada terkait dengan potensi gelombang tinggi ini," katanya.

    Di wilayah Jawa Barat misalnya angin kencang dan gelombang tinggi perairan selatan Jawa Barat berkisar 2 sampai 4 meter. Adapun di perairan utaranya antara 1,5 sampai 2,5 meter. 

    Simak artikel lainnya tentang angin puting beliung Panguragan Cirebon di kanal Tekno Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.