Retakan Gunung Anak Krakatau, Kemungkinan Tsunami Sangat Kecil

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu 23 Desember 2018. Pada tahun 2000-an Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan kegempaan terutama pada September 2005. Sementara Oktober 2007 aktivitas kegempaannya kembali meningkat dan terjadi letusan abu setinggi 200 meter. ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat

    Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu 23 Desember 2018. Pada tahun 2000-an Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan kegempaan terutama pada September 2005. Sementara Oktober 2007 aktivitas kegempaannya kembali meningkat dan terjadi letusan abu setinggi 200 meter. ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar, mengatakan retakan di Gunung Anak Krakatau tidak akan membuat longsoran hebat. Menurut Rudy, retakan lazim terjadi setelah terjadi letusan. "Longsoran itu biasa dari suatu letusan," ujar Rudy di Cafe 289, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis 3 Januari 2019.

    Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Tinggi Kolom Abu 1.600 Meter

    Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan retakan ini muncul setelah gunung menyusut dari 338 meter menjadi 110 meter. Bagian badan gunung yang diduga akan longsor karena retakan ini bervolume 67 juta kubik dengan panjang sekitar 1 kilometer, retakan ini lebih kecil dibanding longsoran yang mengakibatkan tsunami pada 22 Desember 2018, yakni 90 juta kubik.

    Menurut Rudy, bila terjadi longsor pun tidak ada yang dapat memprediksi kapan itu terjadi. Karena retakan selepas letusan itu hal biasa. Ia menambahkan karena volumenya yang relatif lebih kecil, kemungkinan tsunami susulan yang diakibatkan dari longsoran ini juga sangat kecil. Namun ia mengatakan masalah mitigasi tsunami ditangani oleh BMKG, sedangkan mereka di Badan Geologi hanya menangani masalah vulkanologi.

    Baca juga: BNPB: Letusan Gunung Anak Krakatau Tak Akan Sebesar Krakatau

    Adapun sensor pendeteksi letusan, dia mengklaim, sudah terpasang sejak lama. Tahun 2018 saja, kata dia, Badan Geologi sudah tiga kali mengganti alat sensor. Terakhir dua sensor dipasang. Satu rusak akibat letusan besar dan akan kembali dipasang saat kondisi gunung sudah tenang.

    Pakar Vulkanologi, Surono, mengimbau agar kabar retakan ini tidak dianggap luar biasa. Seputar keretakan ini, menurut dia, dapat menimbulkan keresahan terhadap masyarakat terdampak. "Longsorannya yang harus dipastikan. Retakan itu menyebabkan longsor atau tidak, tsunami lagi atau tidak. Masyarakat kan yang kemarin ketakutan akan ketakutan lagi," ucap dia di lokasi sama.

    Baca juga: Letusan Gunung Anak Krakatau Bercampur Air, Menuju Segala Arah

    Simak kabar terbaru seputar Gunung Anak Krakatau hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.